Wanita Djawa di Suriname

Loading
loading..

WANITA JAWA DI SURINAME

Santo Koesoebjono*)

“Sesudah tiga tahun hidup berumahtangga saya pergi meninggalkan suami saya karena tidak tahan lagi. Tetapi saya tidak pergi begi-tu saja, lo. Pada hari itu saya membereskan rumah dan menye­diakan segala kebutuhan suami saya seperti biasanya. Sesudah itu saya menyem­bah suami saya untuk mengatakan bahwa saya akan meninggal­kannya dan jika dalam waktu enam hari saya tidak kembali, maka dia tidak usah repot2 mencari saya. Tanpa pamit kepada keluarga  atau tetangga, saya pergi dari rumah dengan membawa beberapa pakaian dan barang yang perlu saja.”

Demikianlah dimulainya kisah perantauan nenek Juariah pada awal abad ini. Rupanya nenek Juariah harus berpisah selamanya dari kampung halamannya Karang­sa­ri di Banyumas itu sebab nasib memba­wa­nya ke negeri sebe­rang dan sampai usianya yang 85 tahun seka­rang ini baru satu kali dia berkesempatan untuk menengok kampung asalnya tersebut. Dari Jawa nenek Juariah pindah ke Suriname (negara di sebelah utara Amerika Selatan) dan setelah lebih dari setengah abad tinggal di Surina­me, dia pindah lagi dan menetap di negeri Belanda bersama anak dan cucu2nya sejak tahun 1975.

Bermodalkan tekad dan kerja keras

Pada waktu meninggalkan kampungnya nenek Juariah baru berumur kira2 16 tahun (dia menikah pertama kalinya pada usia 13 tahun). Keputu­san untuk meninggalkan suami dan pergi dari tempat kelahir­annya ini mencer­minkan sikap emansi­pasi karena wanita ini berani memutus­kan sendiri nasib hidu­pnya. Apalagi jika diingat bahwa wanita itu masih muda belia dan lingkung­an budaya Jawa pada saat itu sangat mengekang kebebasan wanita. Padahal pada jaman seka­rang, justru pada jamannya emans­ipasi wanita, gadis2 yang seusia itu biasanya masih manja dan sangat tergantung kepada ibu/o­rang tuany­a. Nenek Juariah menunjuk­kan sikap dewasa yang ditandai dengan keule­tan, ketabahan dan rasa tanggung jawab, seperti dapat kita lihat dalam kisahnya berikut ini.

Tidak lama setelah meninggalkan kampung halamannya nenek Juariah berjumpa dengan seorang laki2 bernama Sawigeno, yang kemudian menjadi suaminya seumur hidup. Mereka berdua memutu­skan untuk pergi ke Suriname (yang pada waktu itu juga negara jajahan Belanda) guna mengadu nasib. Ketika itu memang pemerintah koloni­al di Suriname mengim­por tenaga kerja dari pulau Jawa untuk mengatasi masalah keku­rangan tenaga kerja untuk perkebunan. Pengerah­an tenaga kerja ini berlangsung sejak tahun 1890 sampai dengan tahun 1939. Buruh laki2 dan perempuan yang pergi ke Suriname mendapat kontrak untuk lima tahun.

Perantauan itu tidaklah sekedar berarti mening­gal­kan pulau Jawa dan cara hidup/budaya­nya saja, melainkan juga memulai hidup baru di tempat yang sama sekali asing baginya. Pada waktu itu sedikit sekali informasi yang dapat diperoleh orang Indonesia tentang negara2 lain, apalagi tentang Suriname yang amat jauh itu. Jadi pergi merantau ke tempat yang asing itu merupakan hal yang mena-kutkan, apalagi perjalanan itu harus ditempuh ber-hari2 bahkan ber-minggu2 dengan kapal api, melalui samudra yang luas. Peran­tauan ini sama sekali bukanlah kisah yang roman­tis, seperti yang dibayangkan oleh banyak wanita muda masa kini yang ingin pindah ke luar negeri setelah menikah. Perlakuan terhadap para buruh itu sering kali kasar dan orang sering dibujuk dan ditipu agar mau pergi ke negara yang tidak dikenal terse­but. Perjalanan yang pan-jang sekali dari Jawa ke Suriname itu mengaki­bat­kan banyak orang sakit dan bahkan banyak yang meninggal dunia dalam perjal­anan.

Hidup di “penangsi”

Hidup dan bekerja selama lima tahun di “penangsi” (perkebunan) sangatlah keras. Peker­jaan kakek Sawigeno adalah menanam dan merawat pohon2 kopi, menebang hutan dan mene­bang kayu sedangkan istrinya, seperti kebanyakan wanita2 yang dikontrak, memotong rumput dan alang2, membersihkan got2 di sekitar peruma­han dan kebun. Pekerjaan yang berat dan berbahaya sebab di tempat itu banyak ularnya ! Perkebu­nan itu terletak kira2 20 kilometer dari Parama­ribo (sekarang ibukota Suriname) di tengah rawa2 dan dike-lilingi hutan. Tidak ada jalan aspal. Di sana para buruh Jawa itu merasa sangat terpen­cil dan kesepi­an.

Bagaimanakah keadaan perumahan mereka ? Di perkebunan itu buruh2 dari Jawa (termasuk nenek Juariah dan suami­nya) ditem­patkan di suatu bangunan gudang. Bangunan ini di bagi menjadi beberapa kamar. “Pondok untuk pria dipisahkan dari pondok wanita; hanya suami-isterilah yang boleh tinggal bersama di satu kamar” kata nenek Juariah. Kamar­nya kecil. Emper disebelah kamar dipakai untuk tempat masak. Kamar mandi dan wc ada dibelak­ang bangunan itu. Semua serba sangat seder­hana. Suasana­nya sama sekali tidak ramah dan tidak enak.

Dalam keadaan seperti itulah, pada usia kira2 18 tahun, ne­nek Juariah melahirkan putrinya. Karena hubungan baik antara pasangan ini dengan mandur perkebunan maka nenek Juariah diizin­kan untuk berhenti bekerja ketika anaknya lahir, sekalipun kontraknya belum berak­hir. Malah dia diberi susu setiap hari dan satu kaleng beras setiap minggu. Itulah sebabnya putri tunggal ini dapat dibe­sar­kan dengan sehat, sekalipun waktu itu belum ada program imunisasi, gizi, dsb. Wanita2 yang lain harus terus bekerja walaupun mempu­nyai bayi. Untuk membantu mereka, perusahaan perkebunan menyedia­kan tempat penitipan anak bagi para ibu selama waktu kerja.

Seusainya kontrak, seperti kebanyakan buruh dari Jawa, kakek Sa-wigeno sekeluarga memilih untuk menetap di Suriname, dan sebagai­mana telah dijanjikan dalam kontrak, mereka diberi sebi­dang tanah di mana mereka dapat membangun rumah dan berkebun sendiri. Suami isteri ini memban­gun rumah dito­long oleh teman2 secara gotong royong. Rumah ini dianggap sangat modern untuk masa itu karena beratap seng dan mempuny­ai dinding rangkap dua. Mereka pun memi-liki sebuah sepeda, padahal jarang sekali keluarga Jawa yang pu-nya sepeda. Rupanya keluarga ini bersifat modern dan ingin maju dalam pekerjaannya. Kakek Sawigeno melakukan ber-macam2 pekerjaan sedangkan nenek Juariah berdagang di pasar (kaca­ng, beras dan ha-sil kebun). Yang membeli dagangan­nya adalah penduduk dari suku lain. Kehidu­pan bebas ini memung­kinkan mereka bergaul dengan orang2 dari suku lain dan mulai mempelajari bahasa lain yaitu bahasa Inggris-lokal. Keluar­ga nenek Juariah tidak terus menetap di sekitar perkebu­nan. Mereka pindah tempat beberapa kali dan yang terakhir tinggal di ibukota Paramari­bo sebelum pindah ke Negeri Belanda.

Jerih payah yang tidak sia2

Kisah nenek Juariah berlanjut. Ibu Ponirah, anak tunggal nenek Juariah, menikah dengan orang Jawa yang juga lahir di Surina­me. Pasangan ini mela­hirkan 6 putri dan 3 putra (satu telah meninggal waktu masih kecil) dan yang sulung dilahirkan sewaktu ibu Ponirah berumur 15 tahun sedangkan suami­nya 20 tahun. Seka­rang keluarga nenek Juariah yang berasal dari satu orang itu (dia anak tunggal) berkembang menjadi satu putri, 8 cucu, 14 buyut dan 2 canggah yang berumur 6 dan 2 tahun. Cu­cu2nya lahir di Surina­me dan di Belanda. Satu cucu belum menikah sedangkan yang lain telah meni-kah/ber­tun­an­gan dengan orang yang masih berdarah Jawa atau orang Suriname keturunan suku lain. Salah seorang menantu ibu Ponirah adalah orang Batak yang dibesarkan di Surina­me. Kini semua­nya menetap di Belanda. Walaupun tidak semuanya tinggal di satu kota, rumah anggota2 keluarga itu tidaklah jauh dari rumah nenek Jua-riah dan ibu Ponirah. Mereka sering mengun­jungi rumah nenek dan ibu mereka dan “setiap kali kami datang tentu ada makanan untuk kami” kata salah satu cucu perempuannya. “Kalau anak cucu datang, rumah kami penuh sekali” tambah ibu Ponirah. Memang rumah ibu Ponirah itu cukup besar bagi anak dan cucunya menginap disana.  Dalam usianya yang lanjut ini nenek Juariah masih sehat. Setiap hari dia naik turun tangga ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Dengan bangga putrinya menga­takan bahwa ibunya tidak me-makai kaca mata jika menjahit bahkan tanpa kacamata ibunya masih dapat memasuk­kan sendiri benang ke ja­rumnya.

Disayang­kan bahwa sekarang ini keluarga nenek Juariah tidak lagi memiliki kontak dengan sanak saudara di Jawa. Hal ini dapat dimaklumi karena waktu mening­galkan kampung halamannya dia masih kecil, tidak dapat memba­ca/menu­lis sedangkan sistem teleko­munika­si di masa itu masih belum maju. Mencari asal usul keluarga pun menjadi sulit sekali. Waktu mengunjungi tempat asalnya nenek Jua-riah hanya bertemu kemenakan perempuannya saja. “Apalagi desa saya sekarang sudah lain sekali daripada waktu saya tinggalkan dulu.”

Bila kita kaji kisah hidup nenek Juariah ini terlihat betapa su-litnya kehidupan di rantau. Coba kita lihat anak2 kita seka­rang. Mereka dapat dengan mudah mencapai apa yang diinginkan karena tersedia berbagai sarana yang serba lengkap dan modern. Seko­lah ke luar negeri pun bukan masalah. Tetapi apakah memang anak2 dari kalan­gan mampu itu memperlihatkan prestasi yang lebih baik dari mereka yang tidak berada ? Biasanya malah seba­liknya. Kemudahan itu ternyata malah membuat anak2 muda menjadi manja, cepat putus asa dan kurang bertanggung jawab. Justru anak2 dari keluarga se-derhana dan kurang mampulah yang berhasil mencapai prestasi studi yang baik, padahal mereka harus membagi waktu dan tenaganya untuk belajar dan bekerja atau membantu orang­tua. Hidup sulit itulah yang menggembleng daya tahan dan disiplin mereka sehingga jika mereka mendapat kesempa­tan (dana) untuk studi, mereka dapat mem-perlihat­kan hasil yang lebih baik daripada rekan2 mereka dari kalangan keluarga mampu. Demikian pula dengan turunan nenek Juariah. Nenek Juariah yang tidak tahu baca-tulis itu boleh bang-ga bahwa cucu2nya dapat menempuh pendi­dikan yang tinggi dan men-dapat pekerjaan/jabatan yang baik dalam sektor modern. Tidak sia2-lah jerih payah suami-isteri Sawigeno ini pergi merantau begitu jauh untuk memperbaiki nasib hidupnya.

*) ekonom-demograf bermukim di Negeri Belanda

Publ. in Pertiwi, 6(Oktober 1991)143, 108-109.

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background