Umur dan kedewasaan

Loading
loading..

Umur dan kedewasaan

(Age and adulthood)

Santo Koesoebjono dan Solita Sarwono*)

Ada beberapa ciri/karakteristik yang menandai seseorang atau sekelompok warga suatu komunitas. Salah satu ciri penting adalah umur yang menandai setiap tahap siklus kehidupan individu dan kelompok, sejak lahir sampai meninggal dunia. Umur  seseorang dicatat dalam daftar penduduk pada saat dia lahir (umur 0 tahun – dicatat pada akte lahir), ketika masuk SD (7 tahun), lulus SLA (18 tahun) dan seterusnya. Catatan umur penduduk juga dibuat pada setiap survei serta sensus penduduk.

Setiap kelompok umur terdiri dari orang-orang dengan aneka tingkat sosial, ekonomi dan pendidikan. Sebagai contoh kelompok umur 20-29 tahun yang jumlahnya di Indonesia ada sekitar 40 juta orang  (16 % dari jumlah penduduk).  Kelompok ini sering disebut generasi muda dan merupakan calon-calon pemimpin di masa depan serta berpotensi melakukan perubahan dalam struktur sosial dan politik masa depan. Akan tetapi apakah generasi muda merupakan kelompok yang memang mampu dan mau melakukan perubahan bagi bangsanya seperti yang mereka gembar-gemborkan dalam aksi demo di mana-mana?

Dalam perkembangan kehidupannya orang berinteraksi dengan lingkungan yang kemudian mempengaruhi perkembangan kepribadian dan hidupnya. Remaja di sekolah menengah dan perguruan tinggi bergaul dengan teman-teman dari berbagai golongan (umur, etnis, agama, status sosial) serta memperoleh informasi dari aneka sumber (kontak pribadi, media massa, media sosial, buku-buku, film) tentang segalanya yang terjadi di lingkungannya maupun di dunia. Melalui media sosial informasi dari teman dapat diteruskan dalam sekejap mata ke seluruh dunia. Anak-anak muda ikut dalam berbagai kegiatan dan kelompok sosial. Makin luas pergaulan seseorang melalui kontak langsung maupun media sosial, makin besar jumlah orang dan aspek yang dapat mempengaruhi dan membentuk pandangan dan kepribadiannya.

Umumnya anak muda sangat mudah meniru/mengkuti pandangan dan perilaku teman sebaya atau orang dewasa yang dijadikan idola mereka, apalagi jika tokoh pujaan itu ternama dan mempunyai daya tarik kuat. Seringkali anak muda mengikuti mode gaya hidup atau ikut-ikut berdebat tentang politik sekalipun belum tentu paham tentang masalah yang diperdebatkan. Hal itu dilakukannya untuk dianggap menjadi bagian dari kelompok dimana dia bergaul. Sense of belonging ini penting bagi anak muda bagi pembentukan jati dirinya. Anak muda takut dicap kuno, bodoh  atau pengecut, oleh teman-teman sepergaulannya. Anak muda lebih terbuka untuk menerima hal-hal baru, senang berkreasi, spontan dan lebih berani mengambil resiko, dibandingkan dengan generasi yang lebih tua.

Diasumsikan dengan meningkatnya umur, orang akan bertambah dewasa/matang dan berhati-hati dalam menentukan tindakannya karena pengetahuannya sudah lebih luas/dalam. Makin matang/dewasa seseorang dia akan makin menggunakan pikiran dan menahan reaksi spontan yang mengikuti emosi sesaat. Misalnya remaja yang gemar kebut-kebutan dengan motor atau mobil, menghentikan kegemaran itu ketika dia telah berkeluarga karena sadar bahwa kegemaran itu beresiko fatal. Ketika mereka berkembang menjadi dewasa barulah mereka menemukan jati dirinya, lebih percaya diri sehingga berani melakukan sesuatu yang berbeda dari teman-temannya jika mereka menganggap apa yang dikerjakannya lebih cocok dengan pandangan dan keinginannya sendiri.

Sikap dan pandangan orang dapat pula berubah dengan perubahan waktu. Kegemaran anak muda akan lagu-lagu yang lembut dan tenang pada tahun 1960-an digantikan dengan musik keras pilihan remaja tahun 1980-1990, namun di tahun 2000-an musik tenang menjadi populer lagi di kalangan remaja dan disebut sebagai lagu-lagu ‘oldies’. Sebaliknya ada juga orang yang sejak muda sampai tua tetap menggemari satu jenis musik saja.

Gambaran karakter remaja dan generasi muda ini merupakan gambaran umum dari yang kita tangkap melalui pengamatan sehari-hari disekitar kita maupun di negara-negara lain, melalui media massa ataupun pengalaman pribadi. Akan tetapi seperti disebutkan di atas, masing-masing anggota kelompok remaja/generasi muda itu memiliki latar belakang, pengalaman dan lingkungan yang berlainan. Oleh karenanya kita tidak dapat membuat generalisasi tentang pandangan dan antisipasi tindakan yang akan diambil oleh anggota-angota kelompok generasi muda atau kelompok apa pun juga (etnis, anak sekolah, mahasiswa, lansia, dsb).

Pandangan/harapan kita bahwa anak muda berpikiran maju, tidaklah selalu benar. Di setiap golongan umur tentu ada kelompok yang berpikiran maju dan ingin mencoba hal-hal baru (perubahan), tetapi ada juga golongan konservatif yang tidak suka perubahan, demi rasa aman dan nyaman. Perubahan menimbulkan rasa takut karena ketidak-pastian tentang resiko/dampaknya. Menjalankan sesuatu yang menjadi kebiasaan/tradisi memberikan rasa aman.

Selain itu, tidak selalu suatu sikap diikuti oleh tindakan yang sejalan. Sekalipun remaja/anak muda tampak berani bicara, berdemo, spontan, reaksioner dan anti semuanya yang mapan/establishment,  belum tentu mereka benar-benar berani melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan nyata seperti yang mereka gembar-gemborkan. Perubahan sosial memerlukan waktu lama. Sementara itu kehidupan terus berlangsung dan para pemuda penentang establishment itu tumbuh menjadi dewasa, berkeluarga dan bekerja, bahkan mungkin menjadi bagian dari kelompok establishment itu sendiri, dalam pemerintahan ataupun bisnis.

Demonstrasi mahasiswa di Paris tahun 1968, misalnya, dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa elite yang menuntut perombakan sistem pendidikan yang dianggap tidak cocok dengan perkembangan jaman. Demo itu dilanjutkan dengan aksi mogok para pekerja dari berbagai sektor karena tidak puas terhadap kondisi kerja saat itu. Gerakan mahasiswa dan buruh ini memang akhirnya menjatuhkan Presiden De Gaulle dan merombak sistem pendidikan Perancis. Bukan hanya di Perancis, di era tahun 1960-1970 itu anak muda di Amerika, Inggris dan Belanda pun bangkit menuntut perubahan. Namun para mahasiswa elite itu sendiri kemudian banyak yang menjadi bagian dari establishment yang dulu mereka kritik.

Di Indonesia kelompok mahasiswa dan pelajar (KAMI dan KAPPI) melakukan demonstrasi besar-besaran menentang pemerintah di tahun 1965-1966. Namun beberapa tahun kemudian beberapa tokoh mahasiswa yang menjadi pemimpin KAMI justru menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan dan tidak nyata memperjuangkan apa yang dulunya mereka suarakan atas nama rakyat. Posisi mereka dalam pemerintahan memberi rasa aman dan nyaman.

Karakter kawula muda berubah dari jaman ke jaman. Pada jaman kolonial yang menjadi pelopor/motor kebangkitan bangsa adalah pemuda dan remaja. Pendiri Budi Utomo adalah dokter-dokter berusia 18-20 tahun. Bung Karno masih muda ketika memulai pergerakannya. Tapi anak-anak muda ini berpikiran dewasa, mempunyai visi dan misi untuk masa depan bangsa. Tidak hanya punya visi, mereka juga mengambil tindakan untuk merealisasikan visi/misi mereka. Jaman sekarang anak-anak muda seusia itu umumnya sibuk dengan diri sendiri, mengurus studinya (yang ditentukan oleh orangtua), bergaul dan berpacaran menggunakan fasilitas elektronika (menggunakan uang orangtua), kurang memperhatikan kehidupan masyarakat sekitar. Anak muda ikut-ikutan berpolitik pada saat-saat menjelang Pemilu, atau ikut demo supaya bisa membolos sekolah/ kuliah.

Anak muda Indonesia jaman dulu lebih dewasa/matang daripada anak muda masa kini. Demikian juga halnya anak keluarga yang kurang mampu. Dalam kondisi serba kekurangan atau tertindas, orang akan lebih cepat matang, menggunakan pikiran dan kemampuannya untuk mengatasi keterbatasan atau penindasan itu dan memanfaatkan energinya untuk survive atau untuk menerima kekurangannya apabila dia tidak mampu lagi memperbaikinya. Energi itu tidak dipakai untuk melampiaskan emosi marah, kecewa, putus asa.  

Kedewasaan tidaklah tergantung dari umur. Kedewasaan dibentuk oleh interaksi individu dengan lingkungannya. Ciri kedewasaan antara lain mencakup kemampuan menahan emosi, kesediaan mengalah dan mengakui kesalahannya serta bertanggung jawab atas tindakannya. Orang dewasa berani menerima kekalahan dengan besar hati (legowo) dan tidak menyalahkan orang lain.     

Tidak jarang orang yang tidak muda lagi, justru memperlihatkan semangat muda yang menginginkan kemajuan dan perubahan untuk perbaikan. Mereka berani melawan arus, merombak tradisi meskipun menyadari resiko tindakannya itu. Gus Dur, misalnya, memfasilitasi pluralisme ketika suasana di Indonesia makin berwarna Islami serta menaikkan gaji para guru yang dianggapnya merupakan pilar pendukung bangsa. Pantaslah jika Gus Dur diberi julukan Guru Bangsa yang dihormati tua-muda. Barack Obama mencanangkan perubahan sebagai misinya, ketika dia berkampanye untuk menjadi Presiden dan dia yakin, rakyat Amerika akan mampu melakukan perubahan itu, dengan slogannya : Yes, we can. Misi perubahan itu tetap diterapkannya meski ditentang/dihambat banyak orang.  Presiden terpilih Joko Widodo pun bertekad membina pemerintahan yang bersih, yang jelas akan melawan arus.

Ketiga tokoh ini tidak muda lagi, namun berpikiran maju dan berani melawan arus. Generasi muda perlu membuat tokoh-tokoh ini menjadi idola dan membantu mereka melakukan perubahan dalam masyarakat.

*) Santo Koesoebjono, demograf dan ekonom.

Solita Sarwono, psikolog, sosiolog, ahli kesehatan masyarakat.

Keduanya bermukim di Negeri Belanda.

Published in Suara Pembaruan, 5 Agustus 2014

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background