Tenaga kerja terlatih

Loading
loading..

 

Eropa Mencari Tenaga Kerja Terlatih

(Europe is seeking skilled workers)

Santo Koesoebjono*) dan Solita Sarwono**)

 

Uni Eropa sedang menghadapi dampak dari penurunan fertilitas yang telah berlangsung sejak tahun 1970-an. Penduduk Eropa makin lama makin berkurang. Penurunan fertilitas ini menyebabkan berkurangnya jumlah anak muda, sedangkan jumlah warga lanjut usia (60 tahun keatas) meningkat. Peta SDM pun terpengaruh. Jumlah tenagakerja menyusut (khususnya kelompok tenaga kerja muda) sementara jumlah tenagakerja senior makin bertambah. Kekurangan tenagakerja terlatih dan terampil makin terasa. Eropa mengantisipasi peningkatan kebutuhan akan tenagakerja terlatih dan terampil di masa depan, demi mempertahankan perkembangan ekonomi negara.

Secara umum tenagakerja di Eropa Barat dapat dibagi menjadi dua kelonpok, yaitu yang melaksanakan pekerjaan yang menuntut keahlian dan keterampilan tinggi, dan yang melakukan pekerjaan kasar tanpa keterampilan/keahlian khusus. Di banyak negara Eropa, penduduk enggan melakukan pekerjaan kasar. Mereka lebih suka menganggur dan menerima tunjangan pemerintah bagi pengangguran yang nilainya cukup untuk hidup secara sederhana. Keenganan mengambil pekerjaan yang kasar/kotor ini (seperti pekerjaan bangunan, pertanian, perawatan kebersihan tempat-tempat umum) menciptakan peluang kerja bagi orang-orang yang tinggal di negara-negara yang kurang maju perekonomiannya, seperti tenagakerja dari Eropa Timur, Afrika dan Asia. Mereka datang ke Eropa Barat sebagai tenagakerja yang legal maupun ilegal.

Kebutuhan tenaga kerja terlatih pun tidat tercukupi. Salah satu penyebabnya adalah rumitnya birokrasi yang menghambat diperolehnya izin kerja dan izin tinggal resmi. Perusahaan-perusahaan yang berniat mengambil tenagakerja dari luar Uni Eropa wajib memenuhi syarat-syarat yang diajukan pemerintah Uni Eropa, antara lain pemenuhan gaji minimum, izin tinggal selama periode kontrak kerja dan pemberian peluang untuk mendatangkan keluarga pekerja migran. Program ‘kartu biru’ pemerintah Jerman yang merupakan upaya untuk menarik pekerja profesional yang berpendidikan tinggi dari luar Uni Eropa ternyata gagal karena rumitnya prosedur imigrasi, masalah penguasaan bahasa, serta karena citra negatif tentang bangsa Jerman yang dianggap tidak ramah terhadap pendatang. 

Akhirnya banyak negara Eropa yang menghadapi dilemma: pekerja kasar yang mengalir masuk secara tidak beraturan padahal yang dibutuhkan adalah tenagakerja terlatih. Sadar akan makin sulitnya memperoleh tenagakerja terlatih sebagai akibat dari kecenderungan demografis di masa depan, organisasi dan perusahaan-perusahaan di Eropa aktif mencari tenagakerja pilihan dari luar negeri, termasuk dari negara-negara yang jauh, seperti Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Migran berpendidikan

Baru-baru ini organisasi ketenagakerjaan Jerman menyatakan bahwa pada tahun 2025 Jerman akan kekurangan 3,5 juta tenaga terlatih. Masuknya tenagakerja dari Eropa Timur belum cukup memenuhi kebutuhan Jerman. Untuk itu Jerman akan memperluas upaya pencarian tenagakerjanya ke kawasan Eropa Selatan (Spanyol dan Portugal) serta Vietnam dan Indonesia. Mulai tahun depan Jerman akan merekrut anak-anak muda dari negara-negara itu untuk memperoleh pelatihan di Jerman.

Di Negeri Belanda kekurangan pengemudi truk telah mendorong perusahaan-perusahaan transportasi/cargo untuk merekrut supir truk dari Polandia sejak tahun 2004. Mobil truk di Eropa Barat memiliki mesin dan peralatan sangat canggih (hi-tech). Oleh karenanya orang semudah mencari supir tembak di Jakarta. Namun sekarang ekonomi Polandia telah berkembang maju sekali sehingga sepertiga dari migran Polandia (termasuk banyak supir truk) memilih pulang ke negara asalnya. Rupanya meskipun gaji di Polandia tidak setinggi di Belanda tapi hidupnya lebih menyenangkan karena bisa hidup bersama keluarga. Apa yang terjadi? Para pengusaha transportasi di Belanda menjerit karena kekurangan supir truk.

Negara-negara Eropa dan negara lain yang membutuhkan tenagakerja akan terus berupaya memenuhi kebutuhan tersebut. Di samping melakukan outsourcing pekerjaan-pekerjaan ke negara-negara berkembang, mereka juga memerlukan tenaga terlatih dan terampil untuk terus mengembangkan karya-karya inovatif dan memperbaiki kualitas produk sehingga melebihi produk untuk konsumsi massal.

Seharusnya dihargai

Kecenderungan untuk mengirimkan tenagakerja ke negara-negara yang makmur dapat menimbulkan pendapat yang bertentangan. Karena sulitnya mencari pekerjaan, sebagian orang menanggapi secara positif gagasan pengiriman tenagakerja ke luar negeri. Seringkali pengiriman tenagakerja itu dilakukan secara besar-besaran, yang mayoritasnya adalah tenagakerja kasar/tidak terlatih. Dalam kelompok ini kadang-kadang terdapat juga tenaga profesional seperti perawat, bahkan dokter, yang rela merendahkan diri dan mengabaikan pendidikannya sekedar untuk mencari nafkah yang lebih baik dengan bekerja sebagai pembantu rumahtangga di negeri jiran. Hal ini lebih sering terjadi pada kaum perempuan. Contohnya banyak TKW asal Filipina yang lulusan universitas. Sangat memprihatinkan jika dipikir bahwa suatu negara terpaksa mengirimkan dan kehilangan tenagakerja terlatihnya untuk memperkuat negara lain. Rupanya pemerintah dan dunia bisnis tidak memperhatikan konsekuensi hijrahnya tenaga terlatih ini (skill drain) dengan sungguh-sungguh. Mungkin hal ini disebabkan karena tenagakerja yang dikirimkan itu menghasilkan uang yang menguntungkan bagi keluarga dan pemerintah. Bahkan kelompok TKW sampai diberi julukan pahlawan devisa.

Mengingat bahwa negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) juga akan menghadapi penurunan jumlah penduduk serta penuaan penduduk dan kelompok tenagakerja pada tengah abad ke 21 (menurut proyeksi penduduk oleh PBB) seyogyanya Indonesia menghargai dan menyayangi warganya yang terlatih dan terdidik. Terdapat banyak sekali perguruan tinggi di Indonesia yang setiap tahun meluluskan ratusanribu sarjana. Namun tingkat dan mutu pengajaran perguruan-perguruan itu sangat bervariasi. Jika para sarjana ini tidak memperoleh pekerjaan di tanah air, mereka akan hengkang ke luar negeri. Yang punya peluang lebih besar mendapat pekerjaan di luar negeri adalah mereka yang memiliki keahlian/keterampilan yang terbaik. Itu telah terjadi di tahun 1970-an ketika pemerintah Indonesia mengirimkan guru-guru yang paling baik untuk mengajar di Malaysia. Apakah bangsa Indonesia cukup puas dengan tenagakerja ‘kelas dua’ yang tersisa?

Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, perlu  waspada menghadapi sedotan tenagakerja terlatihnya oleh negara-negara maju karena bakat/keahlian merupakan sumber/modal yang paling berharga bagi pembangunan negara. Kehilangan tenaga terlatih tidak dapat diganti dengan cepat.  Yang tergolong pekerja terlatih itu bukanlah hanya lulusan universitas saja tapi juga lulusan sekolah kejuruan (teknik, informatika, keperawatan, perhotelan, dan lain-lain). Negara penerima/’penyedot’ tenaga terdidik tidaklah perlu bersusah payah mendidik dan melatih warganya, bahkan justru akan memetik buah jerih payah negara berkembang.

Tenagakerja terlatih sangat dicari oleh negara-negara maju. Kemajuan tingkat keterampilan/keahlian pekerja akan meningkatkan persaingan di pasar tenaga kerja terlatih, baik antara negara maju dan negara berkembang, maupun antar negara berkembang sendiri. Selain itu semakin maju pembangunan ekonomi di negara berkembang semakin berkuranglah keinginan orang untuk mencari nafkah di luar negeri. Bahkan kemajuan negara berkembang dapat menarik migran untuk kembali ke tanah airnya. Maka sebaiknya dilakukan pembinaan mutu dan etos kerja para tenagakerja terlatih melalui perbaikan mutu pendidikan maupun pemberian pelatihan lanjutan. Jika tidak, kemajuan Indonesia akan tertinggal dari negara lain dan hanya mampu mengirimkan tenagakerja setaraf pembantu rumahtangga dan kuli bangunan.


*)    Demograf dan ekonom.


**)  Ahli kesehatan, sosiolog, psikolog dan spesialis gender.


Keduanya bermukim di Belanda.

 

Published in Suara Pembaruan, 4 Desember 2012



 

 

 

 

 


 

 

 

 

 


 

 

 

 

 


 

 

 

 

 


 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background