Keluarga Adalah Tonggak Bangsa

Loading
loading..

Keluarga Adalah Tonggak Bangsa

Solita Sarwono*)

Setiap hari media massa memuat berita tentang kekerasan: dalam peperangan, kehidupan damai maupun di lingkungan keluarga/r u m a h t a n g g a . Kekerasan itu ada yang bersifat fisik ada juga yang berupa kata-kata maupun sikap dan perbuatan yang menyakitkan hati.

Korban dari kekerasan adalah orang-orang yang lemah, yaitu kaum perempuan, anak-anak, orang yang renta dan yang sakit. Korban lain adalah orang-orang yang mempunyai posisi lemah/rendah dan tidak berdaya melawan. Yang sering dilupakan adalah orang-orang yang menyaksikan terjadinya kekerasan itu, apalagi jika kekerasan itu dilakukan terhadap orang yang dicintai atau dikenal. Saksi tindakan kekerasan pun dapat mengalami trauma psikis menahun.

Bermacam hal dapat mencetuskan kekerasan. Rasa marah, kecewa, rasa superior, keinginan berkuasa, mendominasi atau balas dendam. Ada juga orangorang yang melakukan tindakan kekerasan karena senang melihat orang lain ketakutan atau kesakitan. Akhir-akhir ini tindakan kekerasan dalam masyarakat maupun di rumahtangga meningkat.

Bahwa perempuan merupakan ‘sasaran empuk’ bagi tindakan diskriminasi dan kekerasan, itu sudah terbukti di seluruh dunia, termasuk di negara-negara maju. Di Indonesia Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terjadi setiap hari, sebagian besar tidak dilaporkan kepada polisi dan tidak dimuat di media massa maupun media sosial karena ada stigma atau rasa malu untuk membuka masalah ini, disamping rasa takut akan terjadi peningkatan kekerasan jika hal ini dibuka atau dilaporkan. Kasus-kasus KDRT yang terungkap hanyalah merupakan puncak gunung es.

Yang memprihatinkan adalah peningkatan kasus kekerasan terhadap anak, kadang-kadang sampai menyebabkan kematian, seperti kasus Engeline di Bali. Kekerasan terhadap anak seringkali memancing emosi marah, sedih dan kasihan pada warga masyarakat. Anak-anak adalah makhluk lemah, tidak berdaya, yang sedang tumbuh kembang, yang seharusnya dilindungi dan disayangi.

Mereka penerus bangsa. Mengapa dianiaya bahkan dibunuh? Orang sulit menerima penganiyayaan anak, apapun alasannya. Terlebih jika pelaku kekerasan terhadap anak itu adalah perempuan, yang diberi tanggung jawab menjaga/mengasuh/merawatnya (ibu, ibu tiri, ibu angkat, nenek, pengasuh anak, perawat ataupun guru), keibuan, kemampuan empati dan belas kasihan.

Fungsi Keluarga

Mengapa orang menyakiti anak? Kekerasan terhadap anak dapat merupakan pelampiasan rasa benci, irihati dan kekecewaan orang dewasa atau dianggap sebagai cara menghukum atau mendisiplinkan anak. Makin besar rasa benci/iri hati seseorang atau makin besar kesalahan anak, makin besar pula hukuman atau kekerasan yang dilakukan terhadap anak.

Sebagai alat melatih disiplin dan kepatuhan, hukuman sering dipakai oleh orangtua dan guruguru tradisional. Hukumannya dapat berbentuk pukulan (dengan tangan kosong atau memakai alat), disuruh melakukan suatu gerakan berulang-ulang sampai kelelahan/kesakitan atau merampas hak anak (tidak diberi makan-minum, melarangnya istirahat atau tidur, menyekapnya dalam ruang tertutup). Hukuman akan ditingkatkan jika anak tidak memperlihatkan
perubahan perilaku, apalagi jika anak kelihatan sengaja menantang pendidik.

Orang yang disakiti tentu akan mencari perlindungan di tempat yang aman dan minta pertolongan dari orang yang dipercaya dapat menghentikan tindakan yang menyakitkan itu. Bagi anak, tempat perlindungan itu seharusnya keluarga, dan penolong/pelindungnya adalah orangtua. Tetapi jika kekerasan itu justru terjadi di dalam keluarga dan pelaku kekerasan adalah orangtua atau orang yang tinggal di rumah itu, akan lari kemanakah anak itu? Jika tidak ada yang menampung, anak itu akhirnya dapat menjadi anak jalanan yang lebih berisiko menjadi korban kekerasan dari sekitarnya.

Keluarga seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman, kasih sayang, kehangatan dan kenyamanan. Guna menyediakan kondisi semacam itu dan waktu yang cukup kepada anak-anak. Komunikasi merupakan aspek yang amat penting. Perselisihan atau pertentangan pendapat dapat dilakukan tanpa suara keras dan tindakan kasar.

Mengalah adalah kunci dari pertikaian dan pertentangan pendapat. Kehadiran fisik semata, tanpa berkomunikasi atau memberikan perhatian kepada anggota keluarga, atau mengganti perhatian/kasih sayang dengan materi, percuma. Seperti pepatah bahasa Inggris : you can buy a house but not a home.

Rumah, bukanlah hanya bangunan fisik beserta isinya, melainkan keseluruhan suasana kehidupan di dalamnya. Rumah yang baik adalah yang menimbulkan rasa rindu, sekalipun mungkin di gubug sederhana yang atapnya bocor. Home sweet home.

Sehubungan dengan itu ada ibu-ibu rumahtangga yang lebih suka menggunakan istilah homemaker daripada housewife jika ditanya statusnya. Namun janganlah tugas asah-asih-asuh itu seluruhnya ditimpakan pada pundak ibu saja. Ayah harus ikut membina terbentuknya kenyamanan di rumah. Sebagai kepala keluarga, ayah perlu memberikan contoh perilaku yang baik bagi anak-anaknya sehingga anak tidak anya merindukan masakan dan belaian ibu di rumah, tetapi juga bimbingan, perlindungan dan kasih-sayang ayah.

Peran ayah dalam asuhah kelua di negara maju sudah terintegrasi dalam kehidupan berkeluarga, sehingga diadakan Hari Bapak (bulan Juni) untuk memberikan apresiasi kepada bantuan dan kasih-sayang ayah/suami.

Kehidupan keluarga yang nyaman dapat diibaratkan sebagai lahan garapan yang sudah diolah dan diberi pupuk, siap untuk ditanami dengan aneka biji-bijian.

Lahan itu dapat disemai dengan bibit perilaku baik yang mematuhi etika hubungan sosial, norma agama dan menghargai budaya. Makin baik kualitas lahan persemaian (kehidupan keluarga) itu, makin subur dan kuatlah tanaman (perilaku anak) yang tumbuh kembang di atasnya. Kelak anak-anak itu akan menjadi generasi yang menggantikan orangtuanya dan akan meneruskan kepada keturunannya semua yang telah dipelajari dan diwarisinya.

Masa depan suatu bangsa terletak di tangan generasi muda. Agar di masa depan bangsa kita tetap kokoh dan makin berjaya, anak perlu dipupuk dan dijaga sebaik mungkin serta dijauhkan dari kekerasan.

Orangtua perlu memberi teladan perilaku baik, menjauhi tindakan dan kata-kata yang kasar, serta sifat tamak dan egoistis, karena anak akan meniru orangtuanya. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Keluarga karakter manusia.

*) Penulis adalah psikolog, sosiolog, ahli gender, bermukim
di Negeri Belanda

Published in Suara Pembaruan, 29 Juni 2015

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background