Bela Negara, Caranya

Loading
loading..

Bela Negara, Caranya

Solita Sarwono*)

Imbauan untuk membela negara sebetulnya telah dicanangkan dalam lagu ciptaan Manik, yaitu Satu Nusa Satu Bangsa, di bait terakhir: Nusa, bangsa dan bahasa, kita bela bersama.

Lagu yang merupakan intisari Sumpah Pemuda 1928 tersebut pertama kali dikumandangkan di radio pada 1947.

Dalam era awal kemerdekaan RI, ajakan membela Tanah Air, bangsa dan bahasa itu mengandung makna pembelaan fisik, dengan kekuatan militer, demi mempertahankan kesatuan dan keutuhan negara yang masih belia. Semangat menjaga Persatuan Indonesia dicantumkan dalam sila ketiga Pancasila.

Tujuhpuluh tahun setelah kemerdekaan, pemikiran ‘bela negara’ mencuat lagi, dilontarkan oleh pemerintah. Masyarakat diajak membantu mempertahankan negara melalui latihan militer. Ajakan ini menimbulkan reaksi kontroversial. Banyak yang mempertanyakan ‘justifikasi’ dari ajakan tersebut. Apalagi program bela negara itu membutuhkan biaya yang tidak kecil. Mengapa perlu latihan militer bagi segenap lapisan masyarakat? Segenting itukah kondisi negara kita? Apakah kegiatan membela negara hanya dapat dilakukan melalui pendidikan militer? Bagaimanakah jika latihan militer ini justru  disalahgunakan oleh kelompok-kelompok radikal di negara ini? Selama tujuh dekade cukup banyak yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia. Hasil jerih payah yang telah dicapai bangsa kita itulah yang perlu dibela  untuk dipertahankan dan dikembangkan terus.

Imbauan bela negara dengan penekanan khusus pada latihan militer mencerminkan kekhawatiran pemerintah akan adanya ancaman terhadap keamanan negara dan kehidupan warganya. Ancaman itu dapat datang dari negara lain, termasuk ancaman terpuruknya ekonomi Indonesia dalam persaingan global, tetapi dapat pula datang dari dalam negeri.

Pendekatan Multidimensional

Aneka ancaman terhadap kesatuan dan persatuan bangsa itulah yang perlu kita sadari dan kita carikan upayanya agar kita dapat menghindari dan melawannya. Jelas bukan dengan cara mengikuti wajib militer. Pendekatan multidimensional yang halus dan persuasif (tidak diwajibkan), lebih cocok, lebih luas cakupannya dan lebih langgeng dampaknya. Mencintai produk-produk lokal, serta melestarikan seni budaya dan aneka bahasa lokal dengan mengajarkannya kepada merupakan upaya-upaya nyata untuk membela eksistensi bangsa dan negara. Peningkatan kecintaan akan hasil karya anak bangsa akan meningkatkan pula roda perekonomian dalam negeri yang membantu kemandirian bangsa.

Pendidikan bela negara model komprehensif seperti ini, tidak usah menggunakan kurikulum baku dan instruktur terlatih. Biayanya pun tidak besar. Palingpaling hanya diperlukan biaya untuk mensosialisasikan gagasan pendidikan cinta produk dan senibudaya Indonesia ini ke semua lapisan masyarakat, khususnya para orangtua dan pendidik/guru. Teknik pengajarannya bebas, disesuaikan dengan kondisi masingmasing keluarga/kelas/kelompok dan kemampuan para pendidiknya. Yang penting, para pendidik harus memberikan contoh perilaku yang dapat ditiru oleh anak didik dan orang di sekitarnya.

Orangtua, apalagi tokoh-tokoh pemimpin dan wakil rakyat, harus dapat mengendalikan diri dalam pola konsumsi dan gaya hidupnya. Kebiasaan membeli barangbarang impor bermerek, apalagi secara berlebihan, harus diubah. Utamakanlah membeli dan memakai produk Indonesia, kecuali jika memerlukan barang-barang yang belum dapat diproduksi di Indonesia. Hargailah kemampuan bangsa kita dalam memproduksi barang-barang dan memberikan jasa pelayanan. Janganlah ke Singapura untuk kontrol kesehatan sekalian shopping, padahal banyak rumah sakit kita yang mampu memberikan pelayanan kesehatan prima.

Di lain pihak, tenaga kerja di bidang produksi dan layanan jasa pun perlu meningkatkan kualitas kerja dan kinerjanya. Semangat bekerja secara optimal dan bermutu, perlu ditanamkan dalam benak setiap warga Indonesia. Penekanan harus diberikan pada kualitas pekerjaan, bukan kuantitas/jumlahnya saja. Jika di Tangerang, Bandung, Yogya, para karyawan pabrik pakaian dan sepatu untuk ekspor dapat menghasilkan produk bermutu internasional, mengapa produk industri domestik tidak baik mutunya? Mengapa pelayanan kesehatan di rumah-rumah sakit swasta/ internasional lebih bermutu daripada di rumah sakit pemerintah? Mungkin kekecewaan konsumen terhadap mutu produksi dan pelayanan bangsa Indonesia inilah yang membuat kampanye program “Aku Cinta Produk Indonesia” beberapa tahun yang lalu gagal dan kehilangan gaungnya.

Dengan etos kerja mementingkan mutu yang ditunjang oleh perkembangan teknologi, Indonesia dapat menghasilkan barang yang bukan hanya cantik penampilannya, tetapi juga kuat, tahan lama dan tidak lekas rusak, sehingga bangsa Indonesia akan mampu bertanding dalam persaingan ekonomi global. Keanekaragaman budaya Indonesia perlu dipertahankan karena justru akan memperkaya corak dan gaya kreasi produk nasional.

Perbaikan mutu prestasi dan produksi Indonesia akan meningkatkan rasa bangga menjadi orang Indonesia. Rasa bangga inilah yang mempersatukan seluruh rakyat Indonesia, terlepas dari identitas suku, agama dan partai politiknya, sehingga rakyat akan rela membela nusa, bangsa dan bahasa Indonesia, sekalipun tidak mengikuti latihan militer.

Penulis adalah psikolog, sosiolog, pendidik kesehatan masyarakat,
bermukim di Negeri Belanda

Published in Suara Pembaruan, 29 Oktober 2015

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background