Anak Dijadikan Objek Komoditas

Loading
loading..

Anak Dijadikan Objek Komoditas

Solita Sarwono*)

Sebagai makhluk yang masih lemah dan tubuh serta kecerdasannya masih perlu berkembang,
anak-anak per l u mendapat perlindungan dan kasih sayang orangtua, keluarga dan orang dewasa di
sekitarnya. 

Sayangnya tidak semua anak memperoleh perhatian, perlindungan dan kasih sayang yang sangat diperlukan dalam usia tumbuh kembang mereka. Tidak sedikit anak yang terlantar, tidak dapat menikmati hak mereka untuk bersekolah dan bermain karena mereka terpaksa mereka, sekalipun dengan upah yang kecil. Bahkan ada orangtua yang tega melakukan kekerasan, memperkosa bahkan membunuh anak.

Di banyak negara, kita dengar tentang anak-anak yang bekerja di pertanian, perikanan, pertambangan,
pabrik dan di tempat pengumpulan sampah. Di Lombok, misalnya, hampir separuh dari pekerja di kebun tembakau adalah anak-anak, termasuk anak balita. Ada juga orangtua yang menjual anak mereka untuk dijadikan pekerja seks atau mengirimkan anak-anak itu ke negara-negara yang makmur, dengan harapan agar mereka mendapat pendidikan dan kelak dapat bekerja serta mengirimkan uang kepada keluarganya di negara asalnya. Gejala pengiriman anak ini banyak terlihat pada arus migrasi yang masuk ke Eropa dari negaranegara yang menghadapi konflik maupun yang kondisi ekonominya sangat memprihatinkan. Anak-anak itu dikirimkan dengan kapal laut oleh orangtua mereka dengan tujuan ke Eropa. Banyak anak yang tewas sebelum mereka mencapai benua Eropa.

Anak-anak di negara miskin diperdagangkan sebagai pekerja seks atau tenaga kerja murah, baik di negaranya sendiri maupun diselundupkan ke negara lain. Dapat diduga bahwa kondisi kerja anak-anak
itu beresiko terhadap kesehatan mereka, bahkan dapat menimbulkan kematian. Pekerja anak tidak memperoleh peralatan dan pengobatan yang dapat melindungi mereka dari penyakit, gangguan pertumbuhan, maupun dari ancaman kematian. Di kawasan Timur Tengah, gadis-gadis cilik bekerja setiap hari, duduk berjamjam membuat karpet. Jari-jari mungil mereka membentuk simpul-simpul halus yang dirangkai membentuk karpet Persia yang cantic-cantik dan mahal harganya. Selain hak untuk bersekolahnya dirampas, gadis-gadis itu pun mengalami gangguan pertumbuhan fisik karena bertahun-tahun duduk melipat kaki sepanjang hari.

Anak-anak yang bekerja di industri tembakau menggarap proses pemetikan sampai pengeringan daun tembakau itu tanpa masker. Paparan racun nikotin dari daun tembakau itu menimbulkan gangguan paru. Anak-anak laki-laki yang bekerja di pertambangan setiap hari terpapar dengan gas dan zat
beracun, panas api, debu, udara yang menyesakkan dan kegelapan yang merusak mata. Apalagi yang bekerja di bukit sampah. Setiap hari tubuh mereka terpapar terik matahari dan aneka bakteri dan polusi. Upah yang diterima pekerja anak sangatlah kecil dibandingkan dengan resiko bahaya dan penyakit yang mereka hadapi.

Objek Kekerasan

Sebagai mahluk yang lemah anak sering dijadikan objek kekerasan dan pelampiasan rasa marah oleh orang dewasa. Akhir-akhir ini makin sering muncul berita di media massa tentang tindakan kekerasan terhadap anak, yang berbentuk ekstrem. Penculikan, perkosaan oleh satu maupun beberapa
orang, pembunuhan, sampai mutilasi. Sulit dibayangkan bagaimana orang sampai hati melakukan tindakantindakan yang begitu kejam.

Di Afrika sejak dulu anak lakilaki dijadikan tentara (child soldiers) untuk ikut berperang. Akhir-akhir ini
terdengar bahwa golongan Muslim radikal pun melatih anak-anak mulai usia 5 tahun untuk menggunakan senjata tajam maupun senjata api untuk membunuh musuh, termasuk menjadikan anak-anak itu sebagai pelaku bom bunuh diri. Yang menyedihkan adalah anak-anak yang masih sangat muda itu rela membunuh orang dan mengorbankan nyawa sendiri karena yakin bahwa mereka melakukan hal yang baik dan benar.

Tindakan kekerasan menimbulkan trauma. Bukan hanya trauma fisik, namun juga trauma psikologis.
Orang yang menyaksikan suatu tindakan kekerasan atau yang pernah diancam dengan kekerasan pun dapat mengalami trauma psikologis yang sulit disembuhkan.

Penelantaran anak sering terjadi di kalangan keluarga tidak mampu. Kondisi ekonomi yang lemah kadang-kadang memaksa orangtua untuk menjadikan anak mereka sumber pencarian nafkah. Tidak sedikit anak yang sukarela bekerja untuk membantu orangtua dan keluarga dengan mengorbankan kepentingan/kebutuhan diri sendiri untuk bersekolah serta mengambil resiko jatuh sakit, bahkan mati. Dengan mencari nafkah anak-anak ini memperoleh kepercayaan diri, rasa tanggungjawab dan kepuasan karena merasa mampu membantu keluarganya. Melarang dan menindak pekerja anak tidaklah akan menyelesaikan masalah keluarga, bahkan mungkin dapat menambah parah kondisi keluarga miskin. Yang perlu dilakukan adalah melindungi anak dari bahaya dan risiko tindakan kekerasan dan terkena penyakit, agar anak memperoleh kesempatan untuk menikmati pendidikan dan pengembangan diri.

Yang memprihatinkan adalah bahwa di kalangan keluarga yang mampu pun kadang-kadang terjadi pula penelantaran anak, karena orangtuanya yang kurang waktu untuk memperhatikan anak. Perhatian dan kasih sayang orangtua diganti dengan materi dan kemewahan, sehingga anak hidup berlimpah materi tetapi miskin emosi, empati dan kreativitas. Anak yang dibesarkan dalam kondisi semacam ini akan menjadi pribadi yang rapuh dan mementingkan diri sendiri.

Bersyukurlah para orangtua yang memiliki anak-anak yang sehat dan sempurna secara fisik dan mental.
Pikirkanlah, berapa banyak pasangan yang tidak diberi kesempatan untuk membesarkan anak. Oleh karenanya peliharalah bibit muda itu dengan lembut, siramilah mereka dengan kasih sayang dan pupuklah dengan dorongan semangat dan berbagai peluang untuk mengembangkan diri sebaik mungkin. Bangsa Indonesia memerlukan bibit bangsa yang sehat, kuat, cerdas dan berintegritas tinggi untuk menolong sesama warga dan memajukan negara.

*) Penulis adalah Psikolog, Sosiolog bermukim di Negeri Belanda

Published in Suara Pembaruan, 28 Juli 2016

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background