Renungan Alam

Loading
loading..

Renungan Alam

(Alam’s Reflection)

Santo Koesoebjono dan Solita Sarwono*)

Alam, seorang laki-laki di usia senja, duduk di halaman depan rumahnya, di bawah pohon flamboyan. Di seberang rumahnya terhampar sawah dengan padi yang mulai menguning. Pagi itu udara di kawasan 800 meter di atas permukaan laut itu terasa sejuk. Alam menghabiskan hari tuanya di desa, setelah bekerja di kantor pemerintah dan diorganisasi-organisasi internasional. Pekerjaan Alam memberinya kesempatan mengunjungi berbagai negara berkembang dan negara maju, sehingga dia dapat melihat dan membandingkan tahap perkembangan­ aneka masyarakat.

Sambil menghirup kopi panas­nya, Alam merenungkan bagai­ mana masyarakat kita menjadi­ materialistik, hedonistik,­ dan mengutamakan penampilan. Adakelompok-kelompok warga yang narsis, gemar pamer kekayaan,­ tidak memedulikan nasib rakyat yang hidupnya sulit.

Kecenderungan materialistik di negara-negara maju tidaklah sekuat di negara berkembang. Di negara maju masih banyak orang yang menyukai pameran hasil seni di museum, membelibuku-buku, atau mengunjungi konser musik klasik. Minat terhadap seni budaya ini ditanamkan sejak usia sekolah. Anak sekolah secara berkala mengunjungi museum didampingi guru mereka, ikut lomba melukis untuk berbagai usia, belajar memainkan alat musik denganlagu-lagu klasik, mengunjungi konser. Anak-anak juga diajak ke kebun binatang, menikmati keindahan alam fauna dan flora.

Kebiasaan membaca dilatih sejak kecil. Di Belanda orangtua membacakan cerita kepada anaknya setiap malam sebelum tidur. Bahkan setahun sekali dia d a k a n P e k a n M e m b a c a Nasional, di mana para menteri dan tokoh-tokoh terkenal (artis dan olahragawan) datang ke sekolah untuk bercerita di depananak-anak usia 4-6 tahun. Dengan mendengarkan cerita, anak dapat mengembangkan fantasi, terangsang rasa ingin tahu dan ditingkatkan kemampuan berbahasanya.

Minat baca orang Indonesia kurang sekali. Apalagi sekarang. Informasi diperoleh mela- lui gambar atau suara (televisi, film, video, telepon, dan media sosial), bukan dari buku. Membaca koran pun jarang. Padahal info melalui media massa dan media sosial biasanya singkat dan tidak mendalam. Kurangnya minat membaca ini mempengaruhi penyerapan pengetahuan seseorang, selain menghambat pengembangan kemampuannya untuk berfantasi secara bebas.

Minat dan kebiasaan membaca ditanamkan sejak dini, di kalangan keluarga dan sekolah. Jika ini tidak dilakukan maka murid hanya akan membaca bab atau buku yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan guru saja. Tidak lebih dari itu. Buku cerita tidak laku. Anak menyukai komik dengan banyak gambar, bukan lembaran buku yang padat tulisan. Kebiasaan ini dilan- jutkan ke tingkat perguruan tinggi. Buku teks tidak dibaca seluruhnya, hanya dicuplik sana-sini. Apalagi buku bahasa asing. Dicari singkatan buku itu dalam bahasa Indonesia. Para dosen memberi sederet daftar bacaan namun tidak membuat soal yang menyangkut materi yang ada dalam buku-buku wajib.

Orang berlomba-lomba mengejar ijazah, karena dipersyarat- kan dalam mencari pekerjaan dan juga memberi status sosial.Lembaga-lembaga pendidikan menengah dan tinggi tumbuh menjamur menyambut kehausan masyarakat akan ijazah. Banyak sekolah/universitas yang memproduksi ijazah, bukan tenaga terampil. Bahkan ada orangtua yang membeli ijazah bagi anaknya. Atau universitas meluluskan mahasiswa yang ayahnya menjadi penyumbang besar bagi lembaga tersebut. Kertas menjadi lebih penting daripada mutu pendidikan.

Ahli ekonomi Inggris berna­ ma Gresham pada abad ke-16 membuat kesimpulan yang kemu- dian dijadikan hukum ekonomi, yaitu “bad money drives out good”. Uang yang buruk akan mengalahkan uang yang baik. Mata uang yang bernilai tinggi (dibuat dari logam mulia emas atau perak) menjadi makin jarang, digantikan­ oleh mata uang berkualitas rendah yang dibuat dari logam murahan.

Demikian pula dengan pro­ duksi lulusan lembaga pendi­ dikan. Mendidik dan mempro­ duksi lulusan bermutu itu sulit, sehingga lembaga pendidikan yang bermutu tidak mempro­ duksi banyak lulusan. Sebalik­ nya, lembaga yang tidak mempedulikan mutu, cenderung menjalankan sistem pendidikan secara massal, melantik ratusan bahkan ribuan lulusan pada setiap acara wisuda.

Dalam hatinya Alam bertanya-tanya apakah keadaan ini akan berubah. Kapankah sifat materialistik dan hedonistik akan diganti oleh apresiasi terhadap ‘isi’seseorang? Kapankah warga yang berpendidikan akan memberikan inspirasi dan memajukan masyarakat? Alam duduk merenungkan hal ini sambil menatap pemandangan di depan rumahnya.

 

*) Penulis Santo Koesoebjono adalah ekonom dan demograf,

Solita Sarwono adalah psikolog dan sosiolog, keduanya bermukim di Negeri Belanda

Published in Suara Pembaruan, 27 Agustus 2014

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background