Paradox Family Planning

Loading
loading..

Paradoks Program KB

Jumlah Anak Turun, Lansia Bertambah

 (Family Planning Paradox; fewer children, more elderly)

Solita Sarwono dan Santo Koesoebjono*)

 

Dalam tiga dasawarsa terakhir ini, Indonesia telah berhasil memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat luas, terbukti dari berkurangnya angka kesakitan dan kematian, serta bertambah panjangnya rata-rata usia harapan hidup. Keberhasilan dalam bidang kesehatan ini saling menunjang dengan keberhasilan dalam program keluarga berencana yang menghambat pertumbuhan penduduk dan menurunkan tingkat kesuburan/fertilitas (rata-rata jumlah anak per wanita). Akan tetapi seperti negara-negara berkembang lainnya, Indonesia saat ini menghadapi paradoks penuruan jumlah anak dan penunan penduduk. Memang penurunan fertilitas dapat mengurangi beban ekonomi negara namun penuaan penduduk justru menambah beban ekonomi.

Berkurangnya jumlah anak dan penurunan jumlah penduduk memang baik dampaknya. Pada tingkat keluarga, anak-anak (laki-laki dan perempuan) akan mendapat peluang lebih besar untuk bisa menikmati pendidikan yang akan meningkatkan kualitas hidup di masa depannya. Dengan berkurangnya jumlah anak, para ibu juga mendapat waktu lebih banyak untuk bekerja di luar rumah, mengembangkan diri selain untuk menambah penghasilan keluarga. Bagi pemerintah, penurunan jumlah anak ini berarti pengurangan jumlah penduduk yang harus diberi makan. Dengan demikian, dana yang ada bisa dimanfaatkan untuk peningkatan sarana kesehatan untuk anak dan ibu sehingga bisa mengurangi angka kematian ibu, serta mendukung kegiatan-kegiatan perbaikan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Pengurangan jumlah penduduk juga membantu penghematan penggunaan sumber-sumber alam dan melindungi lingkungan.

Sebaliknya, dengan menurunnya fertilitas maka proses penuaan penduduk dipercepat. Proporsi penduduk lansia makin meningkat sebagai akibat dari perbaikan sarana kesehatan dan kondisi ekonomi, sedangkan proporsi anak muda berkurang. Kelompok lansia sebagian besar adalah perempuan, yang usia harapan hidupnya lebih panjang dari laki-laki. Penuaan penduduk seharusnya mendorong pemerintah untuk memberi subsidi lebih banyak bagi jaminan hari tua agar para lansia memperoleh jaminan pelayanan kesehatan dan penghasilan. Dalam masyarakat yang sedang mengalami proses penuaan, fokus perhatian pemerintah dan swasta seyogyanya diarahkan kepada pertambahan jumlah penduduk lanjut usia beserta segala konsekuensinya.

Di abad ke-21 ini, seluruh dunia akan mengalami proses penuaan penduduk, meski dengan kecepatan yang berbeda. Saat ini kebanyakan negara telah mencapai angka fertilitas kurang dari 2,1. Padahal untuk mencegah kepunahan suatu bangsa, dibutuhkan tingkat fertilitas 2,1; artinya, setiap wanita diharapkan mempunyai anak setidak-tidaknya 2 orang agar jumlah penduduk negara itu bisa tetap stabil. Negara-negara yang tingkat fertilitasnya di bawah 2,1 itu kebanyakan terdapat di Eropa, namun Jepang dan Singapura pun dalam kurun waktu yang lebih pendek (sejak tahun 1950-an) telah memperlihatkan proses penuaan penduduk yang cepat. Indonesia sendiri telah berhasil menurunkan rata-rata jumlah anak dari 6 orang per wanita di tahun 1960-an menjadi 2,3 anak per wanita menurut hasil sensus 2000. Menurut catatan Badan Pusat Statistik, ada 6 provinsi yang telah mencapai tingkat kesuburan yang rendah ini. Bahkan menurut estimasi, tingkat kesuburan di tingkat nasional pada saat ini sudah kurang dari 2,1.

Dengan menurunnya jumlah anak yang dilahirkan maka akan terlihat peningkatan proporsi penduduk dewasa dan lansia. Di tahun 2000 sebanyak 7,2 persen penduduk Indonesia tercatat berusia 60 tahun atau lebih. Persentase ini akan melonjak menjadi 12,8 persen di tahun 2025, yang artinya 13 di antara 100 penduduk akan berusia 60 tahun ke atas. Proses penuaan penduduk tidak hanya berarti penambahan jumlah penduduk lansia, namun juga mempengaruhi angkatan tenaga kerja. Makin menua penduduknya, makin banyak orang tua yang masih bekerja. Penuaan penduduk ini lebih jelas tampak pada pekerjaan atau profesi yang tidak disukai oleh anak muda, seperti profesi guru, misalnya. Anak muda kurang tertarik menjadi guru sehingga guru-guru yang masih bekerja adalah guru-guru yang sudah mulai tua.

 Menjaga

 Salah satu cara untuk mengimbangi dampak penuaan penduduk adalah dengan menjaga jangan sampai angka fertilitas rata-rata menurun di bawah angka 2,1. Hal ini menuntut pengkajian kembali dan perubahan kebijakan program KB. Selama ini program KB ditujukan kepada kelompok pasangan agar mereka membatasi jumlah anaknya supaya tidak lebih dari dua orang. Namun ada kelompok perempuan yang memilih untuk mempunyai anak satu saja, bahkan untuk sama sekali tidak mempunyai anak. Kelompok inilah yang perlu diperhatikan khusus, jika angka fertilitas ingin dipertahankan pada tingkat 2,1.

Ahli kependudukan Hull mengamati bahwa terdapat dua kelompok perempuan. Kelompok pertama adalah mereka yang benar-benar ingin memenuhi peran dan tugasnya sebagai perempuan, yaitu menikah dan menjadi ibu. Ada juga perempuan yang karena dampak modernisasi dan globalisasi justru mementingkan pendidikan dan karir, sehingga menunda pernikahan dan mengesampingkan hasrat untuk mempunyai anak. Kalaupun punya anak, mereka hanya membatasinya pada satu anak saja untuk tidak mengganggu karir dan hidupnya. Golongan yang kedua ini banyak terdapat di Eropa dan juga di Singapura, dan sudah mulai tampak juga di Indonesia.

Jika fokus program KB akan dialihkan, program penyuluhan seharusnya tidak saja dibatasi pada pembatasan jumlah anak (dua anak cukup) namun juga mengimbau pasangan yang belum punya anak atau ingin punya anak satu saja agar mereka mau mempunyai anak dua. Hak mempunyai anak adalah hak prerogatif individu dan setiap orangtua membesarkan anak sebagai bagian dari investasi di masa depannya, sebagai ‘milik pibadi’. Namun beban tanggung jawab untuk membesarkan anak juga ditanggung bersama pemerintah dan masyarakat, yaitu untuk biaya pendidikan, pelayanan kesehatan dan saran penunjang lain bagi kesejahteraan anak. Oleh karenanya, anak itu pun merupakan ‘milik bersama’, milik masyarakat, yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk membantu menunjang sistem kesejahteraan masyarakat, terutama dalam memberikan bantuan antargenerasi.

Dengan berkurangnya jumlah anak, makin kecil pula jumlah generasi muda yang harus menyokong generasi tua yang makin meningkat jumlahnya itu. Jadi beban anak muda makin berat. Bantuan yang diberikan bukan saja secara pribadi (anak membantu ibu-bapaknya sendiri) namun juga secara umum, terlepas apakah orangtua yang dibantu itu orangtuanya sendiri atau bukan (bantuan antar generasi). Ini berarti bahwa semua orang tua (lansia) akan mendapat bantuan (finansial dan sosial) dari yang muda, sekalipun mereka sendiri tidak pernah mempunyai anak. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya konflik antargenerasi. Paling tidak, solidaritas antargenerasi akan melemah.

 Sistem Pensiun

 Generasi muda di negara-negara Barat sudah mulai mempertanyakan diri sendiri apakah mereka mampu menunjang sistem pensiun yang disebut ‘pay-as-you-go’, di mana pembiyaan tunjangan pensiun dan pemenuhan kebutuhan para lansia ditanggung oleh kaum muda yang masih produktif. Masalahnya, anak muda yang jumlahnya makin sedikit itu harus menanggung biaya yang makin besar dengan bertambahnya jumlah lansia.

Sukses program KB untuk mencapai dua anak, kini menimbulkan paradoks percepatan penuaan penduduk sebagai akibat dari terlalu sedikitnya rata-rata jumlah anak per wanita. Perlu pengkajian kembali kebijakan program yang sudah puluhan tahun berjalan baik ini. Perlu dibuat terobosan baru, yaitu menyarankan pasangan untuk mempunyai anak tidak kurang dari dua.

Punya anak bukan saja merupakan karunia, namun ada beban ekonomis dan psikologisnya. Oleh karena itu perlu dicari pendekatan yang tepat untuk membujuk pasangan agar bersedia mempunyai dua anak. Pendekatan itu perlu dilaksanakan dengan hati-hati agar tidak membingungkan masyarakat.

Imbauan itu betul-betul harus ditujukan hanya kepada kelompok yang belum memenuhi norma ‘dua anak cukup’. Salah-salah, orang bisa menyangka diizinkan mempunyai anak lagi, sekalipun mereka sekarang sudah punya 2-3 anak. Kalau ini terjadi, inisiatif akan menjadi bumerang bagi kesuksesan program KB.

 

*) Penulis pertama ahli kesehatan masyarakat; penulis kedua ekonom-demograf dan dosen UNESCO-IHE

 Published in Suara Pembaruan, 12 November 2004

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background