Modal kemajuan ekonomi

Loading
loading..

Pendidikan modal kemajuan ekonomi

(Education, an asset for economic progress)

Solita Sarwono*) dan Santo Koesoebjono **)

 

Pendidikan merupakan salah satu indikator penting dari kemajuan suatu bangsa. Perbandingan antar negara sering memakai angka-angka tentang buta aksara dan tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk masing-masing negara. Perhitungan Human Development Index (HDI) dilakukan berdasarkan angka-angka usia harapan hidup, pendidikan (antara lain kemampuan baca-tulis penduduk dewasa dan proporsi penduduk yang bersekolah di setiap tingkat pendidikan), serta ekonomi (penghasilan/GDP per kapita). Di tahun 2012 Indonesia menempati peringkat ke 121 dari 190 negara.   

Melek-aksara diartikan sebagai kemampuan baca-tulis kalimat pendek dan sederhana dari seseorang dalam kelompok usia tertentu. Melek-aksara ini pun mencakup kemampuan berhitung secara sederhana. Informasi tentang tingkat melek-aksara ini merupakan informasi yang paling mudah diperoleh melalui survei atau sensus penduduk dan dipakai bahan perbandingan internasional, meskipun bukan merupakan alat ukur sempurna yang mencerminkan tingkat pendidikan suatu bangsa.

Persentase penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas yang dapat baca-tulis adalah 93 % di tahun 2012.  Ini berkat adanya wajib belajar yang dinaikkan dari 6 tahun menjadi 9 tahun (SD menjadi SMP). Namun statistik saja tidak cukup.  Bagaimana dengan mutunya? Lulusan SD yang tidak sering membaca koran atau buku, lama-lama akan kehilangan kemampuan membacanya. Apalagi kemampuan menulisnya. Kurangnya latihan baca-tulis setelah berhenti bersekolah akan membatasi dan mengurangi tingkat melek-aksara orang yang berpendidikan rendah.  

Tingkat pengajaran di sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi di Indonesia sangat bervariasi sehingga mutu lulusan mereka pun berbeda-beda, sekalipun nilai rapor atau IP-nya mungkin sama. Perbedaan tingkat pengajaran itu dapat dilihat dari prestasi kerja lulusan sekolah atau perguruan tinggi di lokasi-lokasi yang berlainan (perkotaan atau pedesaan, kota besar atau kota kecil, Jawa atau luar Jawa) dan dari mutu/reputasi masing-masing sekolah/ universitas. Dalam seleksi pegawai, organisasi/perusahaan tentu akan memperhatikan nama perguruan tinggi yang meluluskan sang calon pegawai. Prioritas akan diberikan kepada lulusan dari perguruan tinggi ternama serta lulusan dari luar negeri daripada alumni ‘universitas tidak dikenal’.

Perubahan demografis

Dewasa ini Indonesia sedang mengalami peningkatan penduduk usia produktif (15 – 59 tahun), yang mencapai 162 juta orang atau 63 % dari total jumlah penduduk Indonesia di tahun 2015 (menurut PBB). Tentu saja jumlah penduduk usia kerja sebesar itu merupakan potensi sumber daya manusia yang dapat memajukan ekonomi negara. Apalagi beban untuk membantu lansia yang tidak mampu lagi bekerja secara optimal saat ini masih relatif kecil, karena jumlah warga usia 60+ adalah 22 juta (8.6 % dari total penduduk). Berkat keberhasilan program KB jumlah anak muda  berkurang. Dengan kemajuan tekonologi kedokteran, membaiknya pelayanan kesehatan serta meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia, usia penduduk Indonesia diperpanjang (sekarang 71 tahun menjadi 77 tahun pada 2045). Jumlah lansia di masa depan akan terus meningkat, sampai melebihi jumlah anak (dibawah 15 tahun) pada 2045. Pertambahan penduduk lansia menyebabkan pembengkakan biaya perawatan lansia. Investasi bagi kegiatan-kegiatan ekonomi produktif pun terpaksa dikurangi.

Guna memanfaatkan kondisi ‘surplus’ penduduk usia kerja, diperlukan tenaga kerja/SDM yang berkualitas yang dapat memberikan hasil kerja/produk yang bermutu tinggi. Dengan SDM berkualitas, Indonesia dapat menikmati ‘bonus demografi’ yang lamanya 20 tahun (dari 2010 – 2030 untuk Indonesia) dan yang hanya terjadi satu kali saja dalam sejarah suatu bangsa. Sebaliknya, jika penduduk usia produktif itu berpendidikan rendah/tidak bermutu, maka kelompok penduduk yang berjumlah banyak itu justru akan menjadi beban negara. Orang yang berpendidikan rendah hanya akan mendapat pekerjaan yang menggunakan tenaga fisik (pekerja kasar). Gaji mereka lebih rendah daripada orang yang bekerja di kantor, yang mampu mengerjakan pekerjaan yang ‘lebih halus’, dengan kemampuan baca-tulis yang lebih tinggi dan mampu menggunakan analisa logika. Rendahnya pendidikan juga menyebabkan rendahnya kualitas kerja/produksi, yang akan menyebabkan kekalahan dalam kancah persaingan global.

Masyarakat Indonesia banyak yang hanya lulusan SD dan SMP, sementara kemajuan teknologi menuntut kemampuan yang lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan banyak yang tidak dapat memperoleh pekerjaan. Apalagi ada anak-anak muda yang merasa sudah pernah bersekolah, enggan mengambil pekerjaan yang dianggap ‘dibawah tingkatnya’. Tidak jarang  lulusan SLA atau S1 yang memilih menganggur daripada bekerja di warung/toko. Alih-alih menjadi pendukung bangsa, golongan usia produktif yang kurang berkualitas justru akan menjadi beban keluarga dan negara.  Jika hal ini terjadi ketika Indonesia memilki ‘surplus’ penduduk usia produktif, maka Indonesia akan mengalami ‘musibah demografi’ (demographic disaster).

Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa (human capital). Pendidikan berlangsung seumur hidup. Kaum lansia dapat terus aktif belajar dan produktif, berbagi dan menularkan pengalaman mereka kepada generasi muda, dalam segala bidang. Lagi pula guna melengkapi kebutuhan hidup dan kenyamanan para lansia yang ingin tetap aktif, generasi muda dapat mengembangkan teknologi dan menciptakan alat-alat bantu bagi lansia. Kreasi dan produksi benda/peralatan bagi lansia ini mendorong perkembangan ekonomi negara.

Guna mengimbangi mundurnya kekuatan ekonomi negara sebagai dampak perubahan demografis, investasi dalam bidang pendidikan perlu dilipat-gandakan dan segera dilaksanakan. Penundaan reformasi sistem pendidikan hanya akan memperburuk kondisi ekonomi. Sistem pendidikan harus berorientasi pada mutu, supaya menghasilkan tenaga kerja berkualitas. Untuk itu kurikulum sekolah perlu dirampingkan (jumlah jenis mataajaran dikurangi) dan isinya diperdalam.

Tujuan pendidikan di Indonesia perlu juga diubah fokusnya. Negara-negara maju membuktikan bahwa kemajuan teknologi menuntut penyediaan tenaga trampil (skilled workers), bukan hanya ilmuwan yang berkutat dengan penelitian ilmiah. Makin maju teknologi, makin tinggi tingkat kemampuan tenaga trampil yang dibutuhkan. Belajar dari pengalaman negara-negara maju itu, Indonesia sebaiknya segera mengarahkan fokus ke pendidikan vokasi/ketrampilan, bukan menambah universitas yang kini sudah ratusan jumlahnya, sehingga terdapat ‘surplus sarjana’ yang sulit mendapat pekerjaan.  Namun pendidikan ketrampilan itu pun harus menekankan kualitas, bukan kuantitas. Lebih baik memiliki 10 orang tenaga kerja berkualitas, dari pada 100 orang yang kerjanya ‘asal-jadi’, bukan? Penggunaan tenaga kerja yang kurang/tidak berkualitas justru dapat menurunkan produktivitas.

Pendidikan karakter harus dimasukkan kedalam kurikulum sejak dini. Mutu guru/ pendidik pun perlu diperbaiki. Selain mengubah teknik pengajaran (dari sistem satu arah/otoriter menjadi dua arah/aktif dan demokratis) untuk merangsang kreativitas anak didik, kemampuan berbahasa Inggris guru-guru pun perlu ditingkatkan agar mereka dapat menyerap ilmu dari negara-negara lain yang digunakan untuk up dating pengetahuan dan teknik mengajar yang dipakai.

Hasil dari reformasi pendidikan baru dapat dirasakan setelah beberapa periode kabinet/pemerintahan presiden. Oleh sebab itu kabinet baru sebaiknya segera melakukan perubahan tersebut, sebelum generasi muda kehilangan peluang emasnya untuk memperbaiki ekonomi bangsa.

 

*) psikolog, sosiolog, pendidik kesehatan masyarakat

**) ekonom , demograf.

Keduanya bermukim di Negeri Belanda

 

Published in Suara Pembaruan, 19 Mei 2014

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background