Manula sumber daya

Loading
loading..

Manula sebagai sumber daya yang berpotensi

(Aged persons as potential workforce)

Santo Koesoebjono*)

Apakah manula masih bermanfaat sebagai sumber daya manusia (SDM) ? Untuk perkerjaan yang menuntut kekuatan fisik memang kurang cocok. Kekuatan tubuh mereka tidak lagi memenuhi syarat. Misalnya buruh pela­buhan di negeri Belanda yang harus mengangkut barang-barang berat seperti karung kopi atau coklat, sudah diang­gap tua pada umur sekitar 35 tahun. Tapi mereka yang pekerjaannya tidak menuntut kekuatan fisik berat masih dapat terus bekerja setelah lewat umur pensiun. Apalagi sekarang ini, dengan perbaikan tingkat kesehatan, terdapat banyak pria dan wanita yang masih sehat sesudah mencapai usia pensiun (55 tahun di Indonesia dan 65 tahun di Negeri Belanda). Kelompok manula ini merupakan SDM yang masih berpotensi. Mungkin mereka tidak begitu cepat dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan dan penggunaan teknologi modern jika dibandingkan dengan teman-teman sejawatnya yang muda, tetapi mereka memilik pengala­man kerja yang jauh lebih banyak daripada yang muda.

Masalahnya adalah bagaimana mengupayakan agar pengalaman yang terpen­dam dari karyawan yang sudah pensiun ini dapat dibagikan atau dialihkan kepada karyawan-karyawan lain di organisasi tersebut atau di organisasi lainnya. Salah satu cara adalah melalui bimbingan/pembinaan atau pelatihan dalam organi­sasi, di mana para pekerja senior bertindak sebagai pelatih dan memberikan saran jalan ke luarnya jika timbul masalah. Meskipun pekerja muda biasanya memiliki ketram­pilan teknik yang lebih canggih (up-to-date) mereka kurang memiliki pengala­man dan kematangan yang diperlukan dalam manajemen organisasi dan pengatasan konflik. Di samping itu pekerja-pekerja muda kurang mengenal sejarah perusahaan dan keputu­san-keputus­an yang telah diambil pada waktu yang lalu. Dengan demikian mereka sulit diharapkan untuk mampu mengembangkan skenario untuk masa depan yang selaras dan berkesinambungan dengan sejarah perusahaan atau organisasi tersebut.

Dengan tetap memanfaatkan pekerja senior diharapkan bahwa proses kerja dapat berlang­sung terus dengan lancar. Hubungan dengan organisa­si-organisa­si yang lain bisa tetap berjalan seperti dulu karena pekerja senior berfungsi sebagai perantara antara pekerja muda dan organi­sasi-organi­sasi terkait. Proses alih pengetahuan dan bagi pengalaman ini berlangsung seperti lomba lari estafet: pelari yang pertama menyerahkan tongkat­nya kepada pelari kedua dan pada saat penyer­ahan tongkat itu kedua pelari itu berlari berjajar. Dewasa ini banyak perusahaan di Eropa Barat yang membujuk para pekerja senior agar mereka mau terus bekerja dan tidak lekas-lekas pensiun (di Negeri Belanda, misalnya, pemerintah mengizinkan warganya untuk pensiun pada usia 60 tahun, padahal usia pensiun resminya 65 tahun). Organisasi memberi batas waktu kapan pekerja-pasca-pensiun dapat mengun­durkan diri. Di Indonesia ada sistem MPP (masa pra-pensiun) di mana setahun sebelum pensiun, pejabat/karyawan yang akan pensiun ini dikurangi beban kerja dan tanggungjawabnya dan diharapkan untuk memberikan bimbingan kepada mereka yang lebih muda atau calon penggan­tinya. Secara psikologis, MPP ini juga memberikan kesempatan bagi yang akan pensiun untuk menyiapkan diri dengan keadaan yang baru dan mulai mencari kegiatan pengisi waktu luangnya.

Cara lain adalah memanfaatkan pekerja senior yang telah pensiun ini menjadi konsultan atau pelatih bagi perusahaan/organisasi lain. Terdapat beraneka ragam instansi yang memberikan pelayanan jasa serupa ini. Salah satu dari organisasi sejenis ini di Negeri Belanda adalah Netherlands Management Cooperation Programme/NMCP, yang selama 20 tahun ini telah mengirimkan pekerja-pekerja senior berpeng­ala­m­an ke negara-negara berkembang. Para pekerja senior yang telah pensiun ini dikirimkan untuk paling lama tiga bulan atas permin­taan perusa­haan atau instansi-instansi lain di negara-negara berkem­bang atau Eropa Timur. Tugas mereka adalah memberi nasehat dan memperkenalkan metode kerja yang berbeda untuk memperbaiki proses kerja atau meningkatkan produksi. Setiap instansi boleh mengundang lagi konsultan tersebut, paling banyak sampai tiga kali.

Apakah yang menarik para pekerja senior ini untuk dikirimkan oleh organi­sasi NMCP ? Mereka memperoleh kesibukan untuk mengisi kehidupannya dan memperoleh kepuasan karena dapat meneruskan pengetahuan dan membagi pengalaman mereka kepada orang-orang muda yang membutuhkannya. Motivasi ini sangatlah penting karena untuk tugas ini mereka tidak dibayar dan hanya menerima sekedar uang saku. Biarpun bekerja sukarela, peminat kegiatan ini besar sekali. Pada waktu ini sebanyak 2000 sukarelawan yang terdiri dari wanita dan pria pensiunan telah mendaftarkan diri ke NMCP. Mereka memiliki pengalaman kerja di berbagai bidang produksi dan jasa, di organisasi swasta dan pemerintah, misalnya dalam bidang pertanian, industri elektroni­ka dan tekstil, bank, kesehatan dan sosial. Pada tahun 1996 Indonesia telah menerima bantuan NMCP untuk 64 proyek, umumnya di bidang pertani­an dan jasa. Karena banyak orang Belanda yang setelah meliwati umur 65 tahun masih dalam sehat dan cukup kuat maka kelompok ini merupakan sumber daya yang berhar­ga dan berpo­tensi tinggi.

Kecenderungan penuaan penduduk ini terlihat tidak saja di negara-negara maju melainkan juga di negara berkembang. Mengingat hal itu maka marilah kita tinjau kelompok manula di Indonesia sebagai SDM. Umur pensiun di Indone­sia adalah 55 tahun dan jumlah penduduk berusia antara 55 dan 70 tahun kira-kira 15 juta. Mengingat bahwa kebanya­kan di antara mereka ini masih sehat maka mereka masih mempunyai potensi untuk membagi pengalam­an dan turut mengem­bangkan pengetahuan di bidang masing-masing. Tentu saja tidak semua pengalaman itu berguna atau berharga namun kita sebaik­nya janganlah menganggap kelompok ini sebagai kelompok yang tidak berharga lagi karena sudah keting­galan jaman.

Banyak di antara kaum pensiunan yang harus terus bekerja karena tun­jangan pensi­un­nya tidak cukup atau bahkan tidak mempunyai tunjangan pensiun sama sekali. Mereka terpaksa mengambil pekerjaan yang bersifat fisik atau non-fisik, dalam keadaan sehat atau kurang sehat. Lihat saja keadaan di sekitar kita. Banyak orang tua yang bekerja sebagai pedagang atau kuli barang di pasar atau masih terus bekerja di kebun atau menjadi pembantu rumahtangga orang lain. Di samping golongan yang terpaksa terus bekerja ini ada juga golongan manula yang diberi kesempatan untuk terus bekerja setelah pensiun. Misalnya para gurubesar bisa terus bekerja sampai usia 70 tahun (umur pensiun bagi dosen bergelar doktor sekarang sudah ditingkatkan menjadi 60 tahun, sedangkan bagi gurubesar 65 tahun). Pejabat-pejabat yang sudah pensiun diberi kedudukan dalam perusahaan/or­ganisasi lain yang tidak harus sama dengan keahli­annya. Di Jepang pejabat-pejabat pensiun sering di “drop” dalam perusahaan swasta. Pejabat yang sudah pensiun itu senang karena dapat menambah tunjangan pensiunnya, sedangkan perusahaan mengang­gap datangnya pejabat kawakan itu sebagai hadiah dari surga (amakudari) karena pejabat senior tersebut dianggap memahami lika-liku birokrasi dan mempunyai network yang sangat berhar­ga bagi perusahaan. Contoh-contoh di atas ini patut ditiru. Memberi kesempatan kepada kaum manula untuk terus bekerja juga sangat penting bagi harga diri mereka. Di Jepang orang yang tidak bekerja merasa tidak memperoleh penghargaan dan respek dari lingkungannya.

Guna memberikan tunjangan pensiun, perlu dikembangkan suatu sistem pensiun, yang dibayar oleh mereka yang masih bekerja. Proses penuaan penduduk membuat beban pensiun akan terus mening­kat. Menurut publikasi PBB pada tahun 1995 golongan 65 tahun ke atas di negara-negara berkem­bang berjumlah 214 juta (5 % dari jumlah pendu­duk dunia) dan jumlah ini dalam jangka waktu 30 puluh tahun (di tahun 2025) akan naik lebih dari dua kali lipatnya menjadi 564 juta (8 %). Dengan kata lain setiap 100 orang berusia produktif (antara 15 dan 65 tahun) menampung 7 orang berumur 65 tahun ke atas. Perban­dingan ini meningkat menjadi 12 per 100 pekerja di tahun 2025. Jadi orang-orang pada usia produktif nantinya akan menang­gung lebih banyak orang yang pensiun. Perban­dingan angka-angka untuk negara-negara berkembang ini berlaku pula untuk Indonesia. Bagi negara maju perban­dingan itu mening­kat dari 20 per 100 di tahun 1995 menjadi 31 per 100 di 2025. Artinya, setiap tiga orang berusia produktif menang­gung satu orang berumur 65 tahun ke atas.

Mengingat meningkatnya usia harapan hidup, peningkatan batas usia pensiun adalah salah satu cara untuk memperpan­jang waktu kerja agar orang dapat membina tunjangan pensiun yang lebih besar. Selain itu peningkatan umur pensiun dapat memenuhi kebutuhan manula yang masih sehat dan yang ingin tetap mempunyai aktivitas dan mendap­at penghar­gaan dari lingkungannya. Pekerja senior ialah sumber pengalaman dan pengetahu­an (tacit knowledge) bagi pekerja-pekerja muda. Kesehatan manula bahkan akan lebih cepat mundur jika mereka menda­dak disingkir­kan dan tidak mempunyai aktivitas lagi, hanya bergoy­ang kaki atau berja­lan-jalan di kebun saja. Karena itu seorang teman saya yang bebera­pa tahun yang lalu dipensiu­nkan sesudah lama bekerja dimuseum senang ketika diminta menjadi penasehat disuatu museum.

 

*) Ahli ekonomi dan kependudukan pada EUR-Asian Institute Rotterdam.

Published in Republika, 1 Oktober 1997

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background