Jangan lupakan sejarah

Loading
loading..

Jangan lupakan sejarah

(Don’t forget history)

Solita Sarwono dan Santo Koesoebjono*)

Setiap negara mempunyai penduduk yang terdiri dari beberapa generasi, mulai bayi yang baru lahir sampai dengan kelompok usia lanjut. Generasi tua tentunya memiliki kenangan masa lalu yang lebih panjang daripada generasi muda. Makin panjang usia seseorang, makin banyak hal yang dialami dan dilihatnya dan makin luas wawasannya dalam menilai/memandang suatu peristiwa alam, kejadian dalam kehidupan sosial maupun peristiwa politik. Anak muda belum sempat melihat banyak hal sehingga kurang luas wawasannya.

Hal-hal di masa lalu yang tidak dialami oleh generasi muda, tidaklah mereka ketahui/kenal, kecuali jika diceritakan oleh generasi yang lebih tua. Misalnya kita semua ingat peristiwa letusan Gunung Kelud tahun lalu yang abunya sampai ke Jawa Barat. Namun anak-anak balita sekarang, apalagi generasi yang belum lahir, tidak ingat bahkan tidak tahu tentang letusan itu kecuali jika kelak mendengarnya dari cerita orangtua, kakek-nenek, membaca arsip koran atau buku sejarah (jika kejadian itu dimasukkan ke dalam pelajaran sejarah/geografi).

Dewasa ini dengan meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja sehingga menunda usia pernikahan dan menunda waktunya menjadi ibu, perbedaan usia antara anak dan ibu menjadi lebih besar dibandingkan dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Apa yang dialami sang ibu ketika masih kecil, sangatlah berbeda dengan dunia dimana sang anak kini hidup. Oleh karena itu cerita-cerita kehidupan masa kanak-kanak dari ayah-ibu akan melengkapi pandangan dan dapat dijadikan perbandingan oleh si anak dalam memandang dan menjalani hidupnya.

Persepsi seseorang terhadap suatu obyek atau kejadian dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sosial-ekonomi dan masa lalu atau pengalamannya. Oleh karenanya persepsi orang terhadap suatu obyek/kejadian akan berbeda-beda. Orang yang tidak mengalami sendiri kejadian itu akan mendengarnya dari orang lain berdasarkan persepsi dan pengalaman orang (narasumber) tersebut. Makin banyak narasumber yang memberikan informasi, makin luas pemahaman seseorang tentang obyek atau kejadian tersebut.

Penularan informasi antar kelompok dan antar generasi dapat berbentuk tulisan/ rekaman maupun lisan. Jika penularan informasi itu dibuat dalam bentuk tulisan atau rekaman (foto, film, video) maka akan tetap diingat oleh generasi penerus, sedangkan informasi lisan makin lama makin luntur, terlupakan oleh bangsa, seiring dengan punahnya generasi tua. Setengah abad yang lalu, misalnya, empat sekawan pemuda Inggris menggegerkan dunia dengan musik dan nanyian mereka. Kelompok The Beatles dengan lagu-lagunya, gaya rambut dan pakaiannya membuat banyak gadis bereaksi histeris ketika menonton pertunjukan mereka. Kemudian terjadi perubahan pada The Beatles : dua anggotanya meninggal dunia dan band itu terpecah. Meski demikian di banyak negara tetap ada kelompok yang menyukai lagu-lagu Beatles dan mengabadikannya dalam bentuk rekaman musik maupun film, bahkan ada band yang meniru The Beatles. Dengan demikian generasi yang baru lahir puluhan tahun kemudian pun sampai sekarang masih dapat menikmati ketenaran anak-anak muda Inggris tersebut.

Kejadian yang hanya dialami oleh seseorang akan ditularkan kepada orang lain, diwarnai dengan interpretasi pribadi dan emosi yang timbul pada saat orang itu mengalami kejadian tersebut. Kejadian yang menyangkut orang banyak akan diberi ‘warna’ oleh banyak orang dari aneka aspek: emosi, sosial-budaya, ekonomi, bahkan politik. Para penutur mengemukakan persepsi masing-masing yang kemudian akan membentuk persepsi kolektif – pandangan sekelompok orang. Hanya saja kadang-kadang persepsi kolektif itu didominasi oleh pandangan beberapa orang tertentu yang dianggap paling tahu tentang hal itu, atau yang memegang kekuasaan.

Misalnya, untuk menyembunyikan persitiwa konflik antar kelompok, pemerintah suatu negara dapat melakukan sensor ketat terhadap pandangan individu, masyarakat dan media massa yang ‘warnanya’ berbeda dengan yang diinginkan oleh penguasa. Dengan demikian cerita yang beredar setelah disensor itu kelak akan memberikan informasi yang tidak lengkap, bahkan keliru, kepada generasi berikutnya yang tidak mengalami konflik tersebut. Terjadi distorsi sejarah karena sensor.

Suatu contoh sensor sejarah adalah gerakan generasi muda menentang pemerintah Tiongkok di lapangan Tiananmen, Beijing, 25 tahun yang lalu. Rakyat Tiongkok dilarang membicarakan apa yang terjadi pada saat itu. Ratusan bahkan ribuan orang yang dituduh terlibat dalam demonstrasi itu dipenjarakan atau dibunuh. Para korban yang masih hidup tidak berani menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga generasi pasca Tiananmen tidak tahu bahwa ada peristiwa penting pada awal Juni 1989. Oleh karena itu pada awal Juni 2014 sekalipun lapangan Tiananmen dijaga sangat ketat oleh tentara untuk mencegah terjadinya demo, hanya beberapa gelintir orang datang untuk memperingati peristiwa yang dikenal diseluruh dunia dengan foto seorang mahasiswa menghadang konvoi kendaraan tank militer. Anak muda di Tiongkok kini lebih disibukkan dengan kepentingan mengembangkan karir dan mengikuti gaya hidup modern bagi diri sendiri dan keluarganya, daripada memikirkan masalah-masalah yang dihadapi bangsanya.

Di Argentina terjadi pemutar-balikan fakta sejarah. Pada tahun 1970an terjadi kudeta militer yang mengakibatkan ribuan penduduk Argentina hilang tanpa bekas. Rupanya pemerintah menutupi peristiwa kudeta tersebut sehingga generasi muda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Para pejabat yang terlibat dalam genocide itu tidak diadili, bahkan sebagian tetap diberi jabatan tinggi dalam pemerintahan. Hanya para janda dan anak-anak korban pembunuhan massal itu sajalah yang melakukan demonstrasi setiap tahun menuntut keadilan, tetapi generasi muda tidak menghiraukannya. Kudeta militer di Argentina kembali muncul sebagai berita ketika putri salah seorang mantan Menteri yang terlibat dalam pembunuhan massal warga itu akan menikah dengan putra mahkota Belanda. Sekarang sebagai Ratu, mendampingi Raja Willem Alexander, Maxima populer dan disukai rakyat Belanda. Latar belakang yang hitam ayahnya di Argentina tidak dibicarakan lagi.

Tampaknya generasi muda kurang berminat mengenal sejarah. Hanya sedikit sekali anak muda yang berusaha mencari tahu tentang hal-hal yang terjadi di masa lalu. Sejarah dianggap sesuatu yang abstrak, yang diterima ‘seperti apa adanya’, tanpa keinginan untuk mencari informasi yang benar tentang apa yang telah terjadi. Perhatian generasi muda lebih terfokus pada masa kini dan masa depan, padahal ada pepatah “sejarah akan terulang kembali” (history repeats itself).

Agar sejarah suatu bangsa tidak hilang terlupakan, generasi tua wajib menularkan pengetahuannya kepada generasi penerus tentang kejadian masa lalu serta melibatkan mereka untuk secara aktif meneruskan informasi ini kepada masyarakat maupun ke generasi berikutnya. Apalagi persepsi kolektif pada suatu masa dapat berubah di masa depan. Seseorang atau suatu peristiwa yang dianggap buruk pada satu zaman, dapat menjadi idola atau kondisi yang diidamkan oleh masyarkat puluhan tahun kemudian. Kita perlu belajar dari sejarah yang dapat ditularkan sejak kecil dalam lingkungan keluarga. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

 

*) Solita Sarwono (psikolog, sosiolog)  dan Santo Koesoebjono (ekonom, demograf). Keduanya tinggal di Belanda.

Published in Suara Pembaruan, 11 Juni 2014

 

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background