Rokok atau Merokok

Loading
loading..

Bebas rokok atau bebas merokok

(Smoke free or free smoking?)

Solita Sarwono*)  

 

Tanggal 31 Mei  yang lalu adalah Hari Bebas Tembakau Sedunia. Hari itu perhatian dunia, terutama profesi kesehatan, diarahkan pada rokok – produksi, konsumsi dan dampaknya. Rokok (tembakau) sudah puluhan tahun terbukti mempunyai dampak negatif bagi kesehatan masyarakat (penyebab sakit paru, kanker, serangan jantung, stroke, diabetes, membahayakan kehamilan). WHO dan Kementerian Kesehatan di banyak negara terus menerus mengingatkan tentang bahaya merokok dan mewajibkan pabrik rokok mencantumkan peringatan tersebut pada setiap bungkus rokok. Juga berbagai upaya edukasi dan program untuk menghilangkan kebiasaan merokok telah dijalankan di seluruh dunia. Meskipun demikian masih banyak orang yang merokok dan produksi rokok terus berjalan. Debat antara kelompok pro- dan anti-rokok masih berlangsung. Pembela rokok selalu menekankan keuntungan ekonomi  dan pemberian lapangan kerja dari produksi rokok. Bahkan dengan laba itu pabrik-pabrik rokok di Indonesia memberikan sumbangan untuk riset dan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa.

Pada tahun 1970-an masyarakat Amerika telah gencar melakukan promosi kegiatan anti-rokok. Disamping pemberian informasi/edukasi tentang bahaya rokok, diambil juga tindakan-tindakan nyata, seperti memberlakukan larangan merokok di tempat-tempat umum, menolak perokok yang melamar pekerjaan di kantor/perusahaan, menyediakan ruang bebas rokok di semua gedung tertutup, membuat aneka asesories dengan slogan stop smoking, berdemo dan melakukan lobbying untuk menyusun undang-undang anti rokok, sampai kepada menuntut pabrik rokok untuk menghentikan produksinya.

Sekalipun demikian 40 tahun kemudian (tahun 2012) lebih dari 40 juta orang Amerika usia 18 tahun ke atas masih merokok (sedikit menurun dari tahun 2005), 16 juta orang terserang penyakit yang berkaitan dengan rokok dan hampir setengah juta perokok meninggal setiap tahunnya (CDC Factsheet, 2013). Juga tampak bahwa proporsi perokok laki-laki dan perempuan hampir seimbang (sekitar 20 %). Mungkin ini salah satu dampak negatif dari gerakan feminisme yang menginginkan kesetaraan gender.

Yang menyedihkan, ribuan anak muda mulai merokok. Pusat Pengontrolan dan Pencegahan Penyakit  (CDC) di AS melaporkan bahwa setiap hari 3000 anak dibawah usia 18 tahun mulai mengisap rokok untuk pertama kalinya, dan 2000 anak muda yang tadinya hanya merokok sekali-kali menjadi perokok setiap hari. Semua perokok di AS memulai kebiasan buruknya itu sebelum menginjak usia 18 tahun.  Satu diantara 5 murid SMP dan SMA (laki-laki dan perempuan) usia 12-18 tahun di Amerika adalah perokok. Kelompok yang jumlah perokoknya paling sedikit adalah yang berusia 65+, hanya 9 %, dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang lebih muda. Upaya-upaya penghentian merokok yang telah dilakukan sebetulnya tidak sia-sia sama sekali, karena dilaporkan hampir 70 % perokok ingin berhenti merokok, tetapi hanya  42 % yang pernah mencoba melaksanakannya.  Rupanya godaan dari luar lebih besar daripada motivasi untuk menghentikan kebiasaan merokok.

Juga produksi rokok terus berjalan di AS, sekalipun UU anti rokok sudah diberlakukan secara nasional. Rokok buatan Amerika banyak diekspor ke seluruh dunia, digemari banyak orang dan menjadi simbol  gaya hidup modern dan penampilan gagah/macho. Orang tidak menghiraukan peringatan resiko tembakau di bungkusan rokok. Marlboro, Benson & Hedges, Salem,  Camel, Cool, Dunhill dan lain-lainnya sangat populer di mana-mana. Di Indonesia pun iklan rokok (termasuk rokok kretek) dikaitkan dengan gaya hidup modern dan glamour. Amerika, yang menjadi pelopor gerakan anti rokok,  terus mengeruk banyak keuntungan dari produksi rokok yang mereka ekspor ke semua benua.

Diasumsikan bahwa kebiasaan merokok berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan (kurang pengetahuan tentang resiko rokok) dan kemiskinan (merokok merupakan hiburan yang murah). Makanya mengherankan sekali bahwa pada 2012 warga Belanda yang pendidikannya rata-rata SLA, bahkan banyak yang sarjana, seperempatnya merokok (rata-rata 14 batang sehari). Angka itu sudah menurun 4 % dalam 10 tahun terakhir. Di samping itu sekitar sepertiga penduduk Belanda usia 15 tahun keatas adalah bekas perokok. Yang benar-benar bukan perokok hanya 36 % laki-laki dan 43 % perempuan (sumber : GGD, RIVM dan CBS – instansi kesehatan dan Biro Pusat Statistik Belanda, 2012).

Seperti di AS, persentase terendah pada perokok adalah golongan lansia. Laki-laki usia 75 tahun ke atas yang merokok hanya 12 %, sedangkan perempuannya 7 %, tetapi separuh dari yang tidak merokok dulunya perokok. Kecilnya jumlah perokok lansia mungkin karena sebagian besar perokok tidak berumur panjang. STIVORO, organisasi yang memantau konsumsi tembakau di Belanda menemukan bahwa satu diantara lima remaja usia 10-19 tahun (laki-laki maupun perempuan) adalah perokok. Bahkan di kelompok usia 18 dan 19 tahun 40 %-nya merokok.

Jika AS dengan penduduk  316 juta orang kesulitan menurunkan angka perokok, dapat dimengerti. Tetapi Belanda negara kecil dengan penduduk 16,5 juta, mengapa sulit mengurangi jumlah perokok? Rupanya larangan merokok di Negeri Belanda baru diresmikan bulan April 2008. Lambat sekali. Yang menjadi penghambat gerakan anti rokok ini adalah sikap warga Belanda yang sangat menghargai kebebasan individu untuk berpendapat, memilih dan menentukan nasibnya sendiri.  Semua saran perubahan dilakukan melalui diskusi, tanpa paksaan, sehingga jika terjadi perubahan, itu merupakan pilihan yang disadari.

Peningkatan kesadaran dan keyakinan tentang bahaya rokok di Belanda dilakukan dengan berbagai upaya. Edukasi diberikan di sekolah-sekolah, batas usia untuk membeli rokok dinaikkan dari 14 ke 16 tahun (sekarang menjadi 18 tahun). Dibuat proyek-proyek percontohan: ruang bebas rokok di tempat makan/minum mulai disediakan dan makin diperluas (sekarang hampir semua rumah makan dan semua kendaraan umum bebas rokok). Dicarikan alternatif untuk mengurangi/menghilangkan kebiasaan rokok, antara lain dengan menyediakan ‘rokok palsu’ yang tidak menggunakan tembakau, meski kini terbukti bahwa pemakainya menjadi tergantung kepada rokok palsu itu. Adiksi baru. Juga cukai rokok dinaikkan berlipat ganda. Sekali undang-undang anti rokok diterima, pihak berwenang memberlakukan sanksi pelanggaran aturan itu dengan ketat dan dendanya tinggi. Penyelundup rokok dihukum penjara.

Dari bebas merokok ke bebas rokok

Kondisi di Indonesia masih jauh dari bebas rokok. Di mana-mana orang masih bebas merokok. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 hampir 70 % laki-laki Indonesia usia 15 tahun keatas perokok (perempuan 7 %). Totalnya 61 juta penduduk Indonesia merokok. Sedihnya, jumlah perokok ini makin naik. Perokok perempuan pun bertambah banyak. Menurut survei WHO tahun 2011 sebagian besar perokok Indonesia mulai merokok sebelum usia 19 tahun, bahkan sepertiga dari pelajar SD sudah mulai belajar merokok sebelum usia 10 tahun dan satu diantara lima remaja usia 13-15 tahun adalah perokok (anak laki-laki 41 %, gadis-gadis 3,5 %). Kasus di Sumatera Utara tentang balita yang merokok mengegerkan dunia setelah ditayangkan oleh YouTube. Tapi orangtua dan keluarga si balita justru bangga bahwa anaknya menjadi tenar.

Selain itu 92 juta penduduk (termasuk 43 juta anak-anak) bukan perokok, setiap harinya terpapar oleh asap rokok (perokok pasif). Setiap tahunnya seperempat juta orang meninggal dunia karena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan rokok. Pemerintah Indonesia mengeluarkan 11 triliun rupiah per tahun untuk biaya pengobatan aneka penyakit yang terkait dengan rokok. Survei WHO menunjukkan perokok memakai 11,5 % penghasilannya untuk rokok, 11 % untuk makan, 3 % untuk pendidikan dan untuk kesehatan hanya menyisihkan 2,5 % saja. Edukasi ‘jangan merokok’ harus diberikan sejak SD.

Merokok memang merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Di setiap acara kenduri, pertemuan, pengajian dsb tentu disediakan rokok bagi bapak-bapak. Uang tip atau uang suap pun diberi istilah ‘uang rokok’, sekalipun petugas yang disuap itu mungkin tidak merokok. Orang laki-laki dianggap aneh jika tidak merokok. Yang beragama Islam langsung menyalakan rokok segera setelah berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Kawula muda merokok supaya terlihat ‘gaya’ dan modern. Perempuan muda pun makin banyak yang merokok. Sementara itu pengusaha rokok terus mengembangkan usahanya dengan mempekerjakan ratusan orang karena otomatisasi belum sepenuhnya masuk ke pabrik rokok kretek. Pemberian lapangan kerja ini dipakai alasan oleh pengusaha rokok untuk tidak menghiraukan anjuran hentikan rokok.

Meski telah dilakukan berbagai upaya edukasi dan kegiatan untuk menurunkan jumlah konsumsi rokok, proses penyusunan undang-undang anti rokok di Indonesia berjalan sangat alot. Korban terus berjatuhan. Diperlukan kemauan politik yang kuat sekali untuk mengubah kebiasaan ‘bebas merokok’ menjadi kondisi ‘bebas rokok’, demi kesehatan dan kesejahteraan bangsa.

 

*) Psikolog, sosiolog dan ahli kesehatan masyarakat di Negeri Belanda.

Published in Suara Pembaruan, 6 Juni 2014

 

 

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background