Masyarakat Kita Sakit

Loading
loading..

Masyarakat Kita Sakit

Solita Sarwono*)

Kehidupan di kota Jakarta berjalan 24 jam sehari. Jalan-jalan raya tetap dilalui kendaraan di tengah
malam maupun pada dinihari. Anggota keluarga, bahkan anak-anak, sudah meninggalkan rumah pada saat matahari terbit untuk pergi bekerja atau bersekolah. Tidak sedikit orang yang pulang kerja sampai di rumah lagi pada malam hari, lelah bekerja, mengantuk atau uring-uringan setelah berjam-jam duduk di kendaraan, terhalang kemacetan, apalagi jika terjebak aksi demo.

Orang yang hidup di kota yang padat penduduk biasanya menghadapi kompetisi/persaingan yang tinggi dalam banyak hal: mencari pekerjaan, berprestasi dan bersaing mencari tempat duduk di bis kota atau
kereta api, mencari tempat parkir, sampai pada saat mencari tempat duduk di kantin atau restoran, tetap bersaing. Kompetisi dan ambisi menimbulkan rasa tegang, cemas, takut, tertekan, was-was, atau istilah populernya stres. Anak sekolah yang dituntut orangtuanya untuk mencapai nilai optimal di sekolah maupun dalam kegiatan olahraga dan seni, juga mengalami stres. Tekanan datang juga dari teman-teman sebaya yang mengejek dan melakkan bullying jika si anak itu tidak mengikuti norma yang berlaku di kelompok mereka.

Karena stres, banyak orang yang lekas marah, mudah tersinggung, tidak sabar dan tidak tahan uji (mudah putus asa). Kata-kata dan tindakan kasar (agresif) seringkali dipicu oleh stres. Selain itu stres seringkali menjadi penyebab serangan jantung, sakit kepala (migraine), atau menyebabkan depresi,
merasa diri tidak mampu, sehingga orang yang tidak tahan menghadapi stres kadangkadang
mengambil jalan pintas, menghabisi nyawa sendiri.

Reaksi seseorang yang menghadapi stres tentu mempengaruhi kehidupan keluarga dan orang di sekitarnya. Keluarga dan teman-teman dekat menjadi merasa tidak nyaman berada di dekat orang itu. Gejala stres juga terlihat pada warga kota-kota lainnya di Indonesia. Bahkan di desa-desa pun petani, pedagang dan remajanya tidak dapat hidup nyaman dan tentram seperti dulu lagi. Apalagi di
mana-mana kriminalitas meningkat. Setiap hari media massa memberitakan tindakan kekerasan di dalam keluarga, sekolah, lingkungan nasional maupun internasional. Berbicara keras dan kasar, pemukulan tawuran, pengeroyokan, perkosaan sampai pembunuhan dan mutilasi, semua itu
dijadikan konsumsi penonton televisi dan pembaca koran/majalah atau pembaca berita di Yahoo dan berbagai blog. Begitu seringnya berita-berita kekerasan itu dikabarkan sehingga masyarakat menjadi
‘kebal’ mendengarnya.

Berita yang juga sering menjadi judul utama pada media massa dan menjadi topik perbincangan sehari-hari di berbagai kalangan adalah tentang korupsi dan keserakahan. Korupsi terjadi di segala lapisan masyarakat, di berbagai lembaga, organisasi dan perusahaan. Bahkan sebagian tokoh masyarakat, wakil rakyat di lembaga-lembaga pemerintah dan para pendidik yang seharusnya menjadi teladan masyarakat, terutama bagi anak-anak, pun tidak luput dari tindakan korupsi, termasuk korupsi waktu. Korupsi dalam masyarakat kita sudah membudaya dan mengakar. Haus harta dan kekuasaan mendorong tindakan korupsi. Karena korupsi kesenjangan sosial-ekonomi yang makin membesar dan kecemburuan
sosial makin meningkat.

Melihat sketsa masyarakat seperti ini, apakah salah jika dibuat kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia itu sakit? Kesehatan jiwa warga masyarakat terganggu dan berimbas penyakit akut atau kronis.

Gangguan Jiwa

Tanggal 10 Oktober bangsa-bangsa sedunia memusatkan perhatian terhadap masalah kesehatan jiwa. Lalu, apakah yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia maupun lembaga-lembaga terkait untuk
mengatasi gangguan kesehatan jiwa bangsa? Pemerintah kita masih disibukkan dengan urusan BPJS Kesehatan yang fokusnya pada penyakit-penyakit fisik. Masih belum ada waktu untuk mengurus masalah kesehatan jiwa masyarakat, apalagi dengan besarnya jumlah penderita penyakit jantung, diabetes, kanker, TBC dan lain-lainnya. Masalah gangguan jiwa baru diperhatikan jika penderitanya melakukan tindakan-tindakan yang menggangu atau meresahkan keluarga dan warga. Orang sakit
jiwa atau orang gila biasanya dikurung atau dipisahkan dari masyarakat. 

Di Indonesia masih ada orang yang menggunakan cara-cara yang tidak manusiawi dalam upaya merawat dan menyembuhkan penderita gangguan jiwa. Kasus-kasus penderita yang dipasung kakinya, dirantai ke tiang atau ke balai-balai sehingga dia tidak dapat meninggalkan tempat, dibiarkan menggeletak berbulan-bulan bahkan beberapa tahun lamanya hanya diberi makan-minum
seadanya tanpa pengobatan, itu masih ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan wartawan asing ada yang menulis, membuat video dan mempublikasikan laporan tentang perlakuan tidak manusiawi terhadap penderita gangguan jiwa di Indonesia. Mengenaskan, nasib para ‘orang gila’ itu.

Seharusnya gangguan jiwa dapat dicegah, seperti halnya penyakit fisik. Pencegahan penyakit itu lebih baik (dan lebih murah biayanya) daripada pengobatan. Sayang sekali upaya pencegahan penyakit (fisik dan mental) kurang sekali mendapat perhatian Kementrian Kesehatan. Anggaran untuk program promosi kesehatan dan pencegahan penyakit selalu jauh lebih kecil daripada anggaran pengobatan/
penanggulangan penyakit. Meskipun dewasa ini anggaran promosi kesehatan sudah meningkat, jumlahnya masih belum mencukupi untuk mendanai berbagai kegiatan edukasi, promosi dan sosialisasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga
kesehatan fisik dan mental.

Warga masyarakat dapat membantu pemerintah dengan mengurangi hal-hal yang dapat menimbulkan rasa cemas, iri hati dan kemarahan. Peran orangtua, guru,  atasan dan tokoh masyarakat sangatlah penting dalam menciptakan suasana nyaman yang tidak menimbulkan ketegangan dan kecemasan.
Anak tidak perlu terlalu dituntut berprestasi tetapi harus dilatih untuk menghadapi masalah dengan tenang, percaya diri dan berani menolak godaan teman-temannya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang diajarkan oleh orangtua maupun guru.

Upaya pemeliharaan kesehatan jiwa perlu digarap bersama-sama, bukan hanya tanggunjawab pemerintah atau Kementrian Kesehatan saja. Seandainya semua orang bersedia menahan emosi, bersikap santun, saling menghormati, bersikap sabar dalam menghadapi masalah serta mau menolong
orang yang memerlukan bantuan, mudahmudahan kita dapat terhindar dari stres, depresi, cepat tersinggung, sehinga tidak menjadi neurotis atau psikotis (schizophren, paranoid, dan sebagainya). Mengisi batin dengan ajaran agama dapat memberi rasa tentram, bisa tidur enak serta pasrah dan
tabah menerima cobaan dan ujian kesabaran.

*) Penulis adalah psikolog, sosiolog dan ahli kesehatan masyarakat
yang bermukim di Negeri Belanda.

Published in Suara Pembaruan, 10 Oktober 2016

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background