HIV/AIDS Momok bagi Banyak Orang

Loading
loading..

HIV/AIDS Momok bagi Banyak Orang

Solita Sarwono*)

“Pssst, aku dengar adiknya mantan pacarmu positif kena HIV”, kata seorang laki-laki kepada
kawannya. Sang kawan bereaksi terkejut, tidak percaya bercampur ketakutan.

Reaksi semacam ini sering muncul di kalangan masyarakat di banyak negara. HIV/AIDS dianggap momok karena akan membunuh penderitanya atau paling malu karena telah tertulari penyakit akibat perilaku seksualnya yang tidak baik.

Kurangnya informasi tentang penyebab, cara penularannya, gejala dan akibat dari penyakit itu
membuat AIDS menjadi penyakit misterius yang menimbulkan stigma bagi penderitanya. Bahkan di kalangan petugas kesehatan di Indonesia pun masih ada yang penyakit tersebut sehingga ikut-ikutan memberi label negatif pada odha (orang dengan HIV/AIDS).

AIDS atau acquired immune deficiency syndrome adalah sekumpulan gejala dan infeksi
yang timbul karena rusaknya akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency syndrome adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Dengan merapuhnya kekebalan tubuh, penderita AIDS akan sangat mudah terkena infeksi penyakit-penyakit
lain (misalnya TBC) sedangkan tubuhnya tidak berdaya melumpuhkan virus/bakteri/jamur yang masuk sehingga orang itu dapat meninggal dunia. Virus HIV itu berasal dari kera di Afrika yang ditularkan kepada manusia melalui dagingnya (dimakan) ataupun melalui air liur atau keringat kera yang masuk ke kulit manusia yang terluka. Dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan kontak antar manusia, HIV/AIDS menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Masyarakat sering menganggap penularan HIV terjadi melalui hubungan intim antar
homoseksual atau dengan pekerja seks, atau karena tinggal serumah dengan odha atau menggunakan perabot makan/minum odha itu. Anggapan itu membuat odha cenderung dianggap ‘kotor’ dan membahayakan, sehingga dikucilkan. Tidak sedikit odha yang dipecat dari pekerjaannya, begitu atasan atau majikan mendengar tentang sakitnya orang itu.
Kebanyakan warga masyarakat menganggap HIV/AIDS tidak ada obatnya. Stigma sosial seringkali berdampak lebih menekan dan menyakitkan bagi odha, dibandingkan dengan penyakit AIDS itu sendiri. Odha dapat menjadi depresif karena dikucilkan dan kehilangan pekerjaannya sehingga tubuhnya makin cepat melemah dan dia meninggal dunia karena
tidak kuat menahan tekanan sosial dari sekitarnya.

Anggapan masyarakat tentang HIV/AIDS tersebut tidak seluruhnya benar. Memang banyak
kasus HIV/AIDS yang ditularkan melalui hubungan kelamin yang tidak aman (tanpa perlindungan kondom) dengan orang yang mengidap penyakit itu. Hubungan sesama jenis, maupun dengan lawan jenis. Namun karena gejala penyakit baru muncul 10 tahun setelah seseorang mulai terkena HIV, maka penularan melalui hubungan intim itu seringkali tidak diketahui dan tidak disengaja. Seorang ibu dapat saja tiba-tiba mendapat ‘vonis’ dari dokter bahwa dia mengidap HIV, sebagai akibat ulah suaminya yang dulu pernah mampir ke kompleks PSK.

HIV dapat pula ditularkan melalui jarum suntik yang tidak steril, yang menyebabkan banyak
pecandu narkoba terkena HIV/ AIDS. Ada pula orang yang tertular HIV melalui transfusi
darah. Itu lebih celaka, karena orang itu sedang sakit sehingga memerlukan tambahan darah,
tetapi ternyata dia tertulari HIV melalui transfusi darah. Oleh sebab itu di negara-negara maju seperti Belanda setiap donor darah selalu di test HIV, sebelum darahnya digunakan untuk transfusi.

Selain itu HIV/AIDS dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada janinnya, jika si ibu tidak
diberi obat anti HIV pada saat hamil. UNICEF melaporkan bahwa di Afrika saat ini remaja
yang meninggal karena AIDS tiga kali lipat dibandingkan dengan angka kematian di tahun 2000. Itu adalah peningkatan yang cepat sekali dalam waktu 15 tahun. Para remaja tersebut terkena AIDS karena ibu mereka tidak mendapat obat anti-retro-viral HIV pada saat hamil. Bahkan tidak sedikit anak balita yang menjadi yatim-piatu karena orangtuanya meninggal kena AIDS. AIDS merupakan pembunuh nomor satu di kalangan remaja usia 10-19 tahun di Afrika. Dari 2,6 juta remaja penderita HIV di seluruh 55 negara Afrika, separuhnya menetap di enam negara, yaitu Afrika Selatan, Nigeria, Kenya, India, Mozambique dan Tanzania.
Anak-anak dan remaja itu tidak berdosa, orangtuanya pun belum tentu melakukan hubungan di luar nikah. Mereka bisa saja tertular HIV karena memakan daging kera atau karena digigit kera.

Menghadapi tantangan tersebut UNICEF dan WHO telah menambah jumlah dan memperbaiki distribusi obat anti-retro-viral bagi ibu hamil di Afrika untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayinya. Pada 2014 tiga dari lima ibu hamil yang mengidap HIV telah diberi obat tersebut, sehingga angka kematian balita karena HIV menurun 60% sejak tahun 2000.

Kemajuan teknologi kedokteran telah memungkinkan pengobatan HIV/AIDS yang memperkuat kekebalan tubuh dan memperpanjang usia penderitanya. Dengan pengobatan
yang teratur dan perubahan gaya hidup, tidak sedikit penderita AIDS di negara-negara maju yang dapat bertahan hidup sampai 20 tahun setelah gejala AIDS mulai timbul pada tubuhnya. Tanpa pengobatan yang baik, kebanyakan korban AIDS hanya dapat bertahan hidup selama satu tahun.

Selain penyediaan obat dan memberi akses untuk memperoleh obat, penanggulangan masalah
HIV/AIDS memerlukan pendekatan kemanusiaan. Para penderita penyakit itu perlu dihargai harkatnya sebagai manusia yang bermanfaat bagi masyarakat, bukannya dianggap beban masyarakat yang harus dijauhi.

Di negara maju odha tidak dipecat, melainkan dibantu, dengan dikurangi beban kerjanya, agar dia tetap dapat berkontribusi dalam perusahaan atau organisasinya. Jam kerjanya dikurangi, atau disesuaikan dengan kondisi tubuhnya. Tentu saja pengurangan beban/jam
kerja itu mempengaruhi penghasilan orang tersebut. Tetapi hal ini masih lebih baik daripada memecatnya. Sementara itu pemerintah membantu penderita dengan sarana pengobatan untuk memperkuat dan memulihkan daya tubuhnya, sehingga penderita dapat berperan
secara optimal dalam pekerjaan, kehidupan sosial maupun dalam keluarganya.

Edukasi kepada masyarakat luas tentang HIV/AIDS – penyebab, gejala, dampak, pengobatan dan pencegahannya – diharapkan dapat menghilangkan stigma terhadap penderita AIDS. Test HIV menjelang pernikahan dan pada awal kehamilan adalah upaya pencegahan yang baik. Tanpa kita ketahui bisa saja kita tertular HIV, bukan?

Penulis adalah psikolog, sosiolog, ahli kesehatan masyarakat,
bermukim di Negeri Belanda

Published in Suara Pembaruan, 2 Desember 2015

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background