Seandainya RA Kartini Hidup Kembali

Loading
loading..

Seandainya RA Kartini Hidup Kembali

Solita Sarwono*)

Seperti biasanya, 2 1 A p r i l d i r a y a k a n p e r i n g a t a n h a r i lahir tokoh pelopor kemajuan perempuan Jawa, yaitu Raden Ajeng Kartini. Kaum perempuan Indonesia, mulai dari murid TK, ibu-ibu di lingkungan RT maupun kelurahan, sampai para penyiar televisi, mengenakan busana tradisional, dan lagu Ibu Kita Kartini dinyanyikan.

Sebetulnya apa yang diinginkan RA Kartini semasa hidupnya? Sederhana saja, kebebasan perempuan untuk memilih jalan hidupnya. Sebagai putri bangsawan Jawa, hidup Kartini dibatasi oleh berbagai aturan yang harus dipatuhi karena merupakan bagian dari adat-istiadat Jawa warisan nenek moyangnya. Budaya Jawa yang patriarkhi cenderung memberikan kebebasan lebih besar kepada kaum laki-laki dan menempatkan kaum perempuan di ranah domestik. Perempuan diharapkan bersikap submisif, patuh dan pasrah kepada aturan, adat dan perintah orang laki-laki, apalagi laki-laki yang lebih tua usia atau tingkat/ statusnya. Pembangkangan oleh perempuan tidak ditolerir dalam budaya bangsawan Jawa. Tindaktanduk, kata-kata dan volume suara ke Negeri Belanda? Mana mungkin. Ke luar rumah saja sulit mendapat izin, apalagi ke negeri yang sangat jauh. Kartini hanya bisa mencurahkan isi hati dan kegundahannya k e p a d a teman – temannya di Eropa melalui korespondensi yang intensif.

Merasa tidak berani dan tidak berdaya melawan adat, Kartini tidak menolak perintah ayahandanya untuk menikah dengan Bupati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang usianya jauh lebih tua dari Kartini, dan telah menikah tiga kali sebelum menikahinya. Kartini sudah merasa beruntung baru dinikahkan pada usia 24 tahun, usia yang tergolong tinggi bagi gadis-gadis bangsawan masa itu. Menolak perintah ayahanda akan menjadikan Kartini perawan tua yang membuat aib keluarga. Kepada teman-temannya di Eropa Kartini menyatakan bahwa dia tidak anti laki-laki, melainkan tidak menyukai adat istiadat kaku yang mengekang kebebasan kaum perempuan Jawa/Indonesia. Dia ingin agar anak perempuan diizinkan sekolah setinggi mungkin, sebagai bekal untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya. Kartini menganggap tempat perempuan bukan hanya di dapur atau di rumah mengurus anak, namun juga di dalam masyarakat. Cita-cita Kartini untuk memajukan kaum perempuan itu ditindak-lanjuti dengan didirikannya berbagai Sekolah Kartini di Pulau Jawa. Sayang sekali Kartini sendiri tidak sempat melihat sekolah sekolah itu dan tidak sempat menjalankan fungsinya sebagai ibu yang mengasuh anaknya, karena dia meninggal dunia empat hari setelah kelahiran anak laki-lakinya, Rd Susalit.

Bangga dan Kecewa? Seandainya RA Kartini hidup lagi sekarang, dia tentu akan yang telah dicapai oleh perempuan Indonesia sampai ke pelosok desa. Hampir semua perempuan dapat membaca, kecuali ibu-ibu yang sudah lanjut usia dan tidak pernah mendapat kesempatan untuk mencicipi pendidikan sekolah atau kursus pemberantasan buta huruf. Perempuan Indonesia yang mencapai gelar akademis tertinggi pun banyak dan tersebar di seluruh Nusantara. Perempuan ada di semua bidang profesi, termasuk profesi yang di negaranegara lain sampai sekarang masih dianggap tabu bagi perempuan, seperti menjadi anggota angkatan bersenjata, pilot, astronaut, menjadi pimpinan perusahaan besar dan menjadi presiden. Bahkan setelah memasuki usia pensiun pun para ibu masih banyak yang aktif menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam berbagai bidang kegiatan. Pengalaman mereka itu ditularkan kepada yang lebih muda guna dijadikan bahan pembelajaran.

Keberhasilan perempuan dalam bidang pendidikan dan pekerjaan itu terjadi berkat bantuan dan kerjasama dengan kaum laki-laki juga. Anggota keluarga laki-laki (ayah, kakak, adik, paman, bahkan kakek) memberikan kebebasan kepada anak perempuan untuk pergi bersekolah, menuntut ilmu, sekalipun ke kota lain bahkan sampai ke luar negeri. Kaum laki-laki (ayah, suami, atasan) juga memberi kebebasan kepada perempuan untuk bekerja dan mengembangkan karir dan menjadi mandiri.

RA Kartini tentu akan berbahagia melihat perubahan budaya Indonesia seperti ini. Memang itulah yang menjadi idamannya. Memajukan perempuan dengan mengubah adat yang mengekang kebebasan gerak perempuan, tanpa membenci lakilaki. Dan Kartini pun akan bangga melihat banyaknya kaum ibu yang dengan luwes dapat mengatur peran gandanya di dalam keluarga, di pekerjaan serta dalam pergaulan sosial sehingga dapat memenuhi harapan keluarga dan masyarakat.

Perkembangan zaman membuat generasi muda Indonesia (perempuan dan laki-laki) terpapar pada berbagai perilaku, gaya hidup dan kebiasaan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain. Emansipasi perempuan dan gerakan feminisme di Amerika dan Eropa menginspirasi  perempuan Indonesia untuk menuntut hak yang sama dengan laki-laki. Dominasi laki-laki mulai digoyahkan. Kaum perempuan Indonesia yang telah dibekali dengan pendidikan tidak begitu saja menyerah dan mematuhi kemauan laki-laki yang memiliki kekuasaan lebih besar. Kaum perempuan mulai berani membangkang dan memberontak, menyalahi aturan permainan dalam budaya patriakhi. Bahkan adat pewarisan tahta ke-Sultan-an pun ditantang, Putri Mahkota diajukan untuk menggantikan kedudukan ayahanda Sultan Hamengkubuwono X. Kaum laki-laki yang tidak rela ditantang oleh perempuan membalasnya dengan kekerasan, baik dalam rumahtangga, di pekerjaan maupun di ranah masyarakat luas.

Andaikata RA Kartini hidup kembali, apakah dia akan bangga yang tetap melajang dan bahagia mengembangkan karirnya sementara ibu-ibu mereka merasa galau karena putrinya belum menikah? Apakah Kartini akan bangga melihat meningkatnya jumlah ibu tunggal karena perceraian, masih banyaknya pernikahan dini (gadis muda belia dinikahi oleh laki-laki yang jauh lebih tua), dianggap lumrahnya relasi sesama jenis dan ganti kelamin (LGBT), dipakainya tes keperawanan terhadap perempuan-perempuan yang ingin menjadi polisi dan militer, masih terjadinya pemberian upah lebih rendah kepada buruh perempuan dan banyaknya pejabat perempuan yang menyalah-gunakan posisinya dengan melakukan korupsi? Menurut hemat penulis, RA Kartini akan terkejut dan kecewa melihat perkembangan ini karena tidak sesuai dengan harapannya.

Zaman berubah, norma sosial dan idealisme peran perempuan (dan laki-laki) juga ikut berubah. Tetapi tidak semuanya harus diubah. Banyak nilai-nilai sosial budaya yang dapat dipertahankan dan dikembangkan atau disempurnakan tanpa mengubah bentuk aslinya.

Masih banyak yang perlu dilakukan untuk memajukan dan memperbaiki kedudukan perempuan Indonesia agar dapat setara dan saling mengisi dengan kaum laki-laki. Para Kartini modern perlu mengajak Kartono-Kartono untuk bekerja sama mengurangi kesenjangan jarak antara perempuan dan laki-laki.

*) Penulis adalah Psikolog, sosiolog, spesialis gender,
bermukim di Negeri Belanda

Published in Suara Pembaruan, 21 April 2016

 

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background