Salut, Perempuan Bali

Loading
loading..

Salut, Perempuan Bali

Solita Sarwono*)

Sepekan terakhir ini masyarakat Bali sibuk menyambut hari raya Nyepi, menyongsong tahun baru Saka 1938. Kali ini Nyepi lebih istimewa, karena bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari total di Indonesia, meski tidak persis di atas Bali.

S e r a n g k a i a n  u p a c a r a dilakukan di semua banjar di Pulau Dewata. Salah satunya Melasti, yaitu upacara pensucian benda-benda pusaka warisan nenek moyang. Benda-benda pusaka itu diarak ke pantai laut atau ke tepi sungai oleh serombongan perempuan dan laki-laki berpakaian adat putih dan berkain sarung Bali, disertai hiasan janur (daun kelapa muda), umbul-umbul warna-warni dan aneka sajen yang dijunjung di kepala para ibu dan remaja putri. Benda-benda pusaka itu dimandikan secara simbolis dengan air laut/sungai setelah didoakan, lalu diarak kembali ke banjar masing-masing. Arak-arakan itu cantik sekali dan banyak menarik perhatian wisatawan domestik dan asing. Para perempuan bersolek dan berjalan cepat dan tegak sambil menjunjung sajen (di Bali disebut banten) yang tingginya kadangkadang mencapai 1 meter.

Di kawasan lain warga melakukan upacara di pura sebagai tanda bersyukur untuk kehidupan, kebahagiaan dan rejeki yang telah mereka terima selama ini. Aneka sajen dan hiasan dari daun kelapa menyemarakkan upacara-upacara adat Bali.

Menyiapkan sajen adalah tugas perempuan dalam keluarga, yaitu ibu dan istri, yang dipelajari turuntemurun. Sebetulnya membuat sesaji untuk menghormati leluhur dan Sang Pencipta tidak hanya dilakukan di Bali saja. Penyajian sajen kita lihat pada berbagai ritual adat dan keagamaan di Jawa, Madura, Kalimantan dan lain-lain. Ada yang sederhana, ada juga yang rumit bentuk dan cara pembuatannya. Sesaji di Bali berbentuk artistik, mendetil dan proses persiapannya memakan banyak waktu. Tidak semua suku bangsa menugaskan pembuatan sajen itu pada perempuan.

Para is t r i dan ibu Bal i menyiapkan banten tidak hanya pada upacara-upacara adat saja, melainkan setiap hari. Setiap pagi mereka menyiapkan banten dari janur yang dijalin menjadi piring kecil (canang), mengisinya dengan nasi dan semua jenis lauk-pauk yang dikonsumsi oleh keluarga itu pada hari tersebut. Tidak lupa diberi bunga kamboja yang mempercantik sesajinya. Masing-masing jenis makanan hanya diambil sejumput, tetapi canang yang disiapkan berjumlah 20 buah, bahkan bisa sampai 50 buah, jika keluarga itu memiliki banyak tempat pujaan dan toko/tempat usaha, apalagi pada harihari penting agama Hindu Bali. Oleh karenanya makanan yang kepada para Dewata dan penjaga rumah serta tempat usaha itu cukup banyak.

Semua banten itu dibawa dan diletakkan di pura, toko/tempat usaha, di persimpangan jalan, dan lain-lain. Paling tidak satu jam setiap pagi dihabiskan oleh kaum perempuan untuk menyiapkan dan menyajikan banten. Sore harinya, ritual yang sama diulangi, dengan isi canang yang berbeda: potongan bunga warna-warni dicampur irisan daun pandan, yang disajikan sebagai tanda terimakasih atas semua kebaikan dan rejeki yang telah diterima oleh keluarga tersebut pada hari itu. Ritual ‘membanten’ ini dikerjakan oleh perempuan Bali setiap hari, pagi dan sore, dengan setia, untuk mencegah bala.

Pada upacara keagamaan tertentu sesajinya dibuat dari buah-buahan dan kue-kue yang disusun membentuk kerucut, kecil maupun besar. Tentu saja harga banten semacam ini lebih mahal dari banten yang dibuat sehari-hari. Banten buah dan kue aneka warna ini dijunjung di atas kepala, dibawa berjalan kaki, naik sepeda bahkan naik sepeda motor, oleh perempuan berpakaian adat lengkap. Selain menyiapkan banten, kaum ibu diwajibkan ikut membantu kegiatan adat di lingkungan banjarnya, bersamasama dengan para laki-laki.

Kerja gotong royong (ngayah) itu juga dilakukan pada upacara pernikahan dan kremasi (ngaben) untuk membuat peralatan yang dibutuhkan, membuat hiasan janur memasak bagi banyak orang yang ngayah, serta ikut mengarak peti jenazah ke tempat pembakaran. Kadang-kadang ngayah dilakukan selama beberapa hari berturut-turut.

Mudah diterka bahwa kewajiban adat/agama yang dibebankan kepada perempuan Bali mengurangi waktu mereka untuk melaksanakan tugas-tugas lain sebagai ibu dan istri, yaitu mengurus/mengasuh anak, mengurus rumahtangga dan melayani suami. Pada dini hari mereka sudah berangkat ke pasar untuk membeli canang  dan keperluan untuk memasak hari itu. Di samping itu banyak perempuan Bali yang bekerja, mencari nafkah di bidang perdagangan, pariwisata, pendidikan, kesehatan, politik dan lainlain, sebagai wiraswastawan, karyawan ataupun pegawai negeri.

Tidak jarang para ibu Bali diharapkan pada dilema untuk memilih tugas mana yang akan diprioritaskan. Acap kali perempuan terpaksa mengorbankan pekerjaanya di toko/kantor/sekolah agar dapat melaksanakan kewajiban adat-agamanya untuk menghindari sangsi sosial yang dikenakan bagi warga yang tidak memenuhi kewajiban adatnya. Kewajiban adat itu tidak selalu dapat ditukar dengan sumbangan uang. Ibu-ibu mengeluh (diam-diam) tetapi tidak berdaya untuk mengubah tradisi dan adat budaya Bali yang kuat. Laki-laki Bali juga kadang-kadang ‘membolos’ atau mengurangi jam kerjanya karena harus ngayah, tetapi tidak sesering perempuan. Pengembangan karir perempuan dapat
terhambat oleh kewajiban sosio-religius.

Memang perubahan zaman telah mulai tampak pada berubahnya aturan adat masyarakat Bali. Kegiatan ngayah sudah dapat diwakilkan kepada anggota keluarga, para suami sudah ada yang bersedia membawakan banten ke pura dan tempat-tempat yang perlu diberkahi, canang dapat dibeli di pasar dan ketidakhadiran pada kegiatan gotong-royong atau ngayah tertentu dapat dibayar dengan uang. Hal ini membantu mengurangi beban kerja perempuan, sehingga mereka dapat mengembangkan diri dan karir mereka, serta dapat lebih banyak mendampingi anak dan suami.

Sekalipun dibebani multi-tugas sehingga harus bekerja keras dan sedikit waktu istirahatnya, perempuan Bali tetap gembira, tersenyum dan tampil menarik pada upacara adat, di panggung tari maupun dalam kehidupan sehari-harinya. sehingga mer eka pantas d diberi perhatian khusus pada Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret (sehari sebelum Nyepi). Salut, perempuan Bali.

Rahajeng Nyepi. Semoga tahun baru Saka 1938 membawa lebih banyak berkah, rejeki dan semangat bagi warga Bali, khususnya kaum ibu.

*) Penulis adalah Psikolog, Sosiolog, Spesialis Gender,
bermukim di Negeri Belanda.

Published in Suara Pembaruan, 8 Maret 2016

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background