Makna ibu

Loading
loading..

MAKNA IBU DI BERBAGAI BUDAYA

Solita Sarwono *)

Hari Ibu dirayakan di banyak negara sebagai tanda rasa terimakasih kepada para ibu. Tradisi itu dimulai di Amerika oleh Anna Jarvis satu setengah abad yang lalu itu (1860). Hari Ibu biasanya dipilih pada hari Minggu, hari libur bagi para ibu dan anggota keluarganya agar dapat dilakukan sesuatu yang istimewa bagi sang ibu.

Cukup banyak negara yang merayakan Hari Bapak juga, misalnya di benua Amerika, Eropa, Australia, Selandia Baru, Asia (India, Pakistan dan Singapura), bahkan di Afrika Selatan. Hari Bapak juga dipilih pada hari Minggu. Thailand merayakan Hari Bapak pada 5 Desember, bertepatan dengan hari lahir Raja Thailand.

Peringatan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan negara-negara lain. Sebagai peringatan Kongres Perempuan pertama tahun 1928, peringatan Hari Ibu di Indonesia lebih dikaitkan dengan emansipasi perempuan. Namun tidak ada Hari Bapak di Indonesia. Apakah hal ini dipandang tidak perlu karena para bapak selalu menerima perhatian dari istri dan anak-anaknya sepanjang tahun?

Makna ibu diberbagai budaya

Setiap perempuan ingin menjadi ibu. Keinginan itu diperkuat (atau justru dihambat) oleh budaya, agama dan bahkan pemerintah. Di negara-negara Islam Timur Tengah menjadi ibu adalah kewajiban bagi setiap perempuan dewasa. Upaya mencegah, menunda apalagi menggugurkan kehamilan adalah tabu. Tidaklah heran jika di Yaman para ibu rata-rata memiliki 8 anak (banyak gadis yang menikah pada usia 15-16 tahun). Kurangnya pelayanan kesehatan reproduktif dan buruknya gizi kaum perempuan mengakibatkan tingginya angka kematian ibu di Yaman (1400/100.000 kelahiran hidup). Akan tetapi hal itu tidaklah merisaukan para ibu maupun pemerintah, karena perempuan yang meninggal dunia karena kehamilan/persalinan dianggap mati sahid.

Sebaliknya, perempuan di China diharuskan membatasi jumlah anaknya, satu anak saja, mengikuti kebijakan satu anak yang diterapkan oleh pemerintah China sejak 1979 untuk mengurangi laju pertambahan penduduk. Guna melaksanakan kebijakan tersebut berbagai cara pengendalian kelahiran, termasuk aborsi, diberikan oleh pemerintah China dengan cuma-cuma. Perempuan yang telah memiliki satu anak diawasi secara ketat. Kehamilan kedua harus digugurkan. Jika si ibu menolak, maka dia akan dipecat dari pekerjaannya. Perusahaan lain pun tidak mau menerima perempuan yang mempunyai dua anak. Karena tidak bekerja, perempuan itu akhirnya manjadi beban keluarga dan masyarakat.

Pilihan jenis kelamin

Mudah diterka bahwa dengan pembatasan jumlah anak itu keluarga di China memilih punya anak laki-laki untuk meneruskan nama keluarganya. Janin perempuan digugurkan atau jika sudah terlanjur lahir, akan dibunuh. Praktek pemusnahan janin/bayi perempuan ini menurut peneliti Amerika Joni Seager dalam bukunya The State of Women in the World Atlas menyebabkan hilangnya 30 juta bayi perempuan di China. Setelah menerapkan kebijakan ini selama tiga dasa warsa, terasa dampak negatifnya : China kekurangan perempuan muda. Kaum laki-laki terpaksa mengimpor pengantin perempuan dari negara-negara tetangga. Ini menyebabkan penambahan jumlah penduduk. Melihat dampak kebijakan satu anak terhadap perkembangan penduduk tersebut maka sejak tahun lalu pemerintah China membolehkan warganya memiliki dua anak.

Anak perempuan juga tidak diharapkan di India, terutama dikalangan penduduk miskin dari kasta yang rendah. Penyebabnya adalah tingginya mahar yang diminta oleh keluarga pengantin laki-laki. Seringkali keluarga pegantin perempuan tidak dapat membayar mahar itu sehingga mereka berhutang kepada keluarga pengantin laki-laki. Dengan adanya hutang ini sang suami (beserta keluarganya) merasa mempunyai hak untuk memperlakukan istri dengan semena-mena. KDRT sering terjadi bahkan dianggap normal dalam budaya India dan dianggap merupakan hak suami, sehingga para istri korban KDRT tidak akan mendapat bantuan hukum jika melaporkan perlakuan suaminya yang tidak jarang sampai diluar batas kemanusiaan itu. Agar nasib serupa tidak terulang pada anaknya, ibu-ibu dari kasta rendah dan tidak mampu tidak segan-segan mengakhiri nyawa bayi perempuannya, justru karena rasa kasihnya terhadap si bayi. Tindakan ini menyebabkan hilangnya 23 juta bayi perempuan India selama setahun.

Perempuan Belanda dan di negara-negara Barat lainnya bebas menentukan hak reproduktifnya. Mereka bebas menentukan usia kapan mereka menjadi ibu, berapa jumlah anak yang diinginkan atau sama sekali tidak mau punya anak. Melahirkan dan membesarkan anak tidak harus dilakukan dalam ikatan pernikahan. Banyak anak dilahirkan oleh pasangan yang hidup bersama tanpa menikah, atau oleh ibu tunggal. Faktor yang menentukan keputusan untuk mempunyai anak antara lain adalah kondisi ekonomi, rencana karir, perumahan, kualitas hubungan antara pasangan itu dan usia si perempuan. Faktor agama hanya sedikit perannya. Agama Katolik sebetulnya melarang penggunaan alat kontrasepsi dan mendorong pembentukan keluarga. Namun sedikit sekali warga Belanda yang menganut dan mengikuti ajaran agama Katolik secara ketat. Yang lebih diutamakan dalam pembuatan keputusan untuk mempunyai anak adalah kesediaan pasangan/partnernya, karena perawatan dan pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab sang ibu, melainkan tanggungjawab bersama dengan ayah si bayi. Peningkatan taraf pendidikan perempuan di Belanda dan keinginan untuk berkarir sebelum berkeluarga membuat banyak perempuan muda menunda kelahiran bayi pertamanya sampai usia 28-29 tahun, yang merupakan usia tertinggi di dunia untuk kelahiran anak pertama.

Perbedaan budaya memberikan warna dan penekanan yang berlainan terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Kaum perempuan Indonesia beruntung tidak hidup dalam lingkungan budaya yang ekstrim. Memang agama, tradisi dan tekanan sosial masih menuntut perempuan Indonesia untuk menikah dan menjadi ibu, namun mereka masih dapat menentukan kapan mereka akan menikah, kapan punya anak dan berapa jumlah anaknya, karena boleh menggunakan alat KB. Dengan kebebasan ini perempuan dapat mengatur hidupnya, kesehatannya dan mempunyai peluang untuk mengikuti pendidikan dan membina karir.

Perempuan Indonesia tidak harus tinggal di rumah saja dan boleh mengikuti pendidikan setinggi mungkin (jika ada dana untuk itu). Mereka dapat bekerja di berbagai bidang pada semua tingkat, mulai dari berdagang sayuran di pasar sampai menjadi Profesor, Menteri, bahkan Presiden. Kita harus bangga dan bersyukur untuk itu. Walaupun demikian, kita tidak boleh melupakan fakta bahwa ada puluhan juta ibu Indonesia yang masih buta aksara, harus bekerja keras sampai tua, atau tidak punya pekerjaan, namun masih harus memberi makan dan membesarkan anak-cucu mereka. Para ibu ini tidak pernah menerima ucapan ‘selamat Hari Ibu’ dari anak-anaknya, apalagi memperoleh penghargaan pada Hari Ibu.

 

*) Psikolog, sosiolog, ahli kesehatan masyarakat, spesialis gender yang bermukim di Negeri Belanda.

Published in Suara Pembaruan, 23 Desember 2013

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background