Demokrasi, agama dan moral

Loading
loading..

Demokrasi, agama dan moral

(Democracy, religion, moral)

Solita Sarwono *)

PilPres kali ini berjalan seru, melebihi PilPres yang dulu-dulu. Masyarakat membuat perbandingan kedua pasangan calon yang bertanding, menilai visi-misi, penampilan, rekam jejak, sampai kehidupan pribadi calon. Melihat proses kampanye dan tanggapan masyarakat, terlihat ada tiga aspek yang sering dibahas, yaitu demokrasi, agama dan moral. Penulis ingin membandingkan kondisi di Indonesia dengan di Negeri Belanda, tempat tinggal penulis. Bangsa Belanda sudah menjalankan demokrasi seabad lamanya, memiliki pemerintahan bersih dan rakyatnya berjiwa sosial sekalipun bukan bangsa yang mengutamakan agama.

Demokrasi

Istilah demokrasi mengandung makna keadilan, kesetaraan, persamaan hak serta kebebasan untuk mengutarakan pendapat dan memperoleh hak individu. Agar semua orang dapat memperoleh hak mereka, maka setiap orang harus bersedia mengalah, memberikan kesempatan kepada orang lain, tidak serakah dan tidak mementingkan diri sendiri, sehingga semua orang puas (situasi win-win). Contohnya situasi lalulintas di simpang empat saat lampu lalu-lintasnya mati. Kalau semua orang merasa berhak untuk maju, cepat melewati simpang empat itu, maka majulah semua kendaraan dari keempat penjuru. Tidak ada yang mau mengalah. Akibatnya macet total, semua rugi (lose-lose). Padahal jika setiap pengendara menahan diri, memberi kesempatan kepada yang lain untuk bergiliran maju, dan tidak ada menyerobot, maka arus lalulintas akan dapat terus berjalan.

Guna mencapai keadilan dan kesetaraan bagi semua penduduk, di Negeri Belanda diadakan sistem subsidi-silang atau bantuan-silang. Yang kaya membantu yang miskin (makin kaya, makin tinggi persentase pajaknya); yang muda membantu yang tua (kawula muda bekerja secara optimal, supaya ekonomi negara dapat menopang kebutuhan para pensiunan) dan yang sehat membantu yang sakit (iuran/premi asuransi kesehatan warga yang sehat dipakai untuk pengobatan/perawatan yang sakit). Bantuan silang itu terjadi antar golongan (status ekonomi, kesehatan dan usia), bukan hanya antar pribadi/keluarga.

Demokrasi yang baik haruslah disertai dengan disiplin dan kesediaan menahan diri/mengalah. Aneh, memang, dua hal yang bertolak-belakang : kebebasan dan kepatuhan/menahan diri. Demokrasi tanpa kendali/disiplin justru akan menimbulkan anarki. Kita simak perilaku bangsa Belanda.

Kebebasan bicara dan hak untuk memperoleh privacy sangat diinginkan tetapi orang Belanda (termasuk politisi) berdebat dengan memberi kesempatan/giliran kepada yang lain dan menahan emosi masing-masing. Orang berdisiplin dan sabar menunggu dalam antrian serta disiplin menepati waktu. Pendidikan disiplin diajarkan sejak usia dini, dengan mengajar anak tentang apa akibatnya jika orang tidak mentaati aturan. Membuang sampah di tempatnya, membereskan kamar dan permainan sehabis dipakai, serta mendidik anak untuk makan secukupnya. Kalau kurang boleh tambah, tetapi dilarang menyisakan/ membuang makanan. Pendidikan semacam ini merupakan pembinaan rasa tanggungjawab. Pendidikan itu dimulai di rumah, dilanjutkan dengan pendidikan di sekolah dan masyarakat. Tentu tidak semua orang Belanda demokratis dan berdisipilin, tetapi upaya pembinaan karakter terus diterapkan. Pelanggar disiplin lalulintas sampai kepada koruptor (ada juga orang yang korupsi) dihukum.

Agama

Penduduk Negeri Belanda berjumlah 16,5 juta, menempati kawasan kira-kira seluas Jawa Barat. Sebagian besar warga Belanda (pribuminya) tidak melaksanakan ritual agama, sekalipun mereka menganggap diri beragama Katolik atau Kristen. Jarang sekali orang pergi ke gereja pada hari Minggu, kecuali lansia 70+. Yang lain hanya ke gereja pada malam Natal. Acara pernikahan dilaksanakan di kantor Pemda (pencatatan sipil), acara pemakaman diselenggarakan di ruang duka tempat pemakaman atau perabuan/kremasi.  Gereja-gereja yang sudah beberapa abad umurnya itu kosong, tetapi tetap dipelihara dengan baik sampai sekarang. Guna memperoleh dana perawatan gedung , pengurus gereja menyewakannya untuk berbagai kegiatan, seperti seminar, ujian mahasiswa, bazar, pameran, pertunjukan kesenian dan konser. 

Cukup banyak orang Belanda yang menyatakan tidak punya agama. Mereka lebih percaya kepada hubungan antar manusia dan kepada realitas saat ini, bukan kehidupan di alam baka.  Di sekolah (selain sekolah Katolik) tidak diberikan pelajaran agama. Warga Belanda menghormati  hak orang lain dan tidak ingin mengganggu/merusak hubungan dengan orang lain bukan karena takut dosa tetapi untuk menjaga keharmonisan sosial. Orang yang dianggap baik adalah yang berbuat baik terhadap sesama dan bagi masyarakat. Nasib seseorang ada ditangannya sendiri, bukan diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sejalan dengan falsafah itu pemerintah Belanda mensahkan undang-undang eutanasia bagi mereka yang sakit parah, koma atau sudah sangat renta. Agama merupakan hal yang sangat pribadi dan tidak pernah ditanyakan dalam pengisian formulir apapun juga. Dalam hubungan antar teman, menanyakan agama  seseorang dianggap tidak sopan. 

Meski tidak agamis, mayoritas penduduk (pribumi) Belanda memiliki toleransi yang sangat besar terhadap etnis dan agama lain. Bahkan ada hukum yang  melarang diskriminasi berdasarkan etnis, agama dan usia, selaras dengan azas demokrasi.  Kaum Muslima yang berkerudung/hijab diterima bekerja di kantor-kantor pemerintah, perusahaan, toko-toko, rumahsakit dan panti perawatan. Hanya yang mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh dan wajah (burka) tidak diterima karena alasan keamanan/security.  Pemerintah Belanda mengizinkan didirikannya sekolah-sekolah Islam, selama mutu pengajarannya memenuhi standar pendidikan di Belanda. Kaum Muslim boleh mendirikan mesjid, asalkan tidak mendengungkan adzan melalui pengeras suara. Ada tempat pemotongan hewan dan toko daging khusus untuk Muslim. Begitu pula untuk Yahudi. Pasangan sejenis boleh menikah dan adopsi anak. Toleransi dan demokrasi ini menjadikan Belanda sebagai tujuan favorit ribuan migran  dan pencari suaka. Negeri Belanda makin menjadi multicolor dan pluralistik.

Toleransi agama ini kadang-kadang disalahgunakan. Sejak peristiwa peledakan Twin Tower 11 September 2001 berkembanglah di Belanda sikap negatif terhadap orang asing/migran dan kelompok Muslim, terutama yang ‘berwajah/bergaya’ Muslim. Bahkan ada anggota parlemen yang terang-terangan menghujat Islam dan mendirikan partai yang anti imigrasi dan anti Islam. Juga ada yang membuat film yang memburukkan nama Islam. Namun pemerintah Belanda tidak menghukum mereka selama mereka tidak melakukan kekerasan. Sebagai reaksi dari sikap negatif ini ada angota kelompok Muslim radikal yang membunuh sutradara film anti Islam tersebut serta ada yang menteror para politisi yang menghina Islam. Pembunuhnya ditangkap dan dihukum penjara. Pada saat ini kelompok Muslim radikal menjadi ancaman di Belanda dan Eropa (jumlahnya 3000 orang se-Eropa) karena mereka menyatakan bergabung dengan kelompok ISIS, sebagian menjadi pasukan jihad ke Suriah dan  menyambut gembira pembentukan khalifat Muslim sedunia yang akan melaksanakan hukum syariah.

Moral

Sekalipun tidak agamis, pada umumnya warga Belanda memiliki sifat jujur, terbuka/transparan, tidak suka korupsi, bertanggungjawab, solidaritas tinggi, sosial, rela membantu orang yang lemah (yang tua, sakit, cacat, renta, miskin atau tertindas). Banyak perhatian ditujukan untuk membantu anak-anak dan kaum perempuan. Orang Belanda terkenal pelit, sehingga timbul ungkapan ‘going Dutch’, yaitu mengajak makan bersama tetapi membayar sendiri-sendiri. Tetapi mereka merupakan pembayar pajak yang patuh dan bersedia mengeluarkan sumbangan bagi orang-orang yang lemah/menderita atau terkena musibah di mana saja. Contoh: setelah tsunami 2004 masyarakat Belanda secara spontan mengumpulkan uang sebesar 80 juta euro untuk disumbangkan ke korban tsunami di Indonesia. Cukup banyak dokter dan perawat Belanda bergabung dalam organisasi Dokter Lintas-Batas (Artsen Zonder Grensen) ke negara-negara yang dilanda perang atau wabah penyakit dan kelaparan (famine), padahal gajinya tidak besar.

Sifat sosial dan rasa peduli terhadap yang lemah mendorong banyak warga Belanda untuk bekerja sebagai relawan di bidang kesehatan dan perawatan, terutama membantu lansia dan keluarga dengan anak atau pasangan yang cacat. Saat ini ada 3 juta penduduk (17 % dari total penduduk Belanda) berusia 65 tahun ke atas, hampir 2000 diantaranya berusia diatas 100 tahun. Dengan bantuan relawan, para lansia dan penyandang cacat dapat hidup nyaman, ke luar rumah dan tidak terisolasi dari masyarakat. Sebanyak 6 juta orang Belanda (termasuk para pensiunan) menjadi relawan untuk kesejahteraan masyarakat. Relawan sosial terdiri dari 60 % perempuan dan 40 % laki-laki. Bantuan mereka bukan diberikan sekali-sekali saja melainkan selama beberapa bulan sampai bertahun-tahun. Para relawan menyumbangkan tenaganya selama 2-18 jam per minggu. Jika dinilai dengan uang, sumbangan para relawan itu bernilai 7,7 miljar euro di tahun 2003.   

Contoh situasi di Belanda menunjukkan bahwa penghayatan agama bukanlah faktor yang paling utama bagi terciptanya keadilan masyarakat, kesejahteraan, rasa aman dan kenyamanan hidup sampai tua. Yang paling penting adalah niat baik dan rasa peduli para penyelenggara negara untuk bersungguh-sungguh (committed) berupaya membela dan mensejahterakan rakyat, terutama golongan yang lemah. Sikap moral yang baik harus diajarkan di rumah, sekolah dan di lingkungan masyarakat. Ajaran dogmatis atau ancaman hukuman tanpa kesamaan kata dan perbuatan, akan menghasilkan apatisme bahkan penolakan/pemberontakan dari generasi muda, sedangkan perilaku yang buruk justru akan ditiru. Melalui keteladanan karakter dan perilaku yang baik dari orangtua dan tokoh masayarakatlah anak muda dapat membentuk bangsa yang bermoral baik dan bertanggungjawab.

*) psikolog, sosiolog, ahli kesehatan masyarakat, bermukim di Negeri Belanda.

Published in Suara Pembaruan, 8 Juli 2014

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background