Demografi dan Perang

Loading
loading..

Demografi dan Perang

(Demography and War)

Santo Koesoebjono dan Solita Sarwono*)

Sejarah menunjukkan bahwa suatu bangsa/negara dapat mengalami musibah, berupa bencana alam (banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, angin topan, musim panas berkepanjangan), kelaparan/ famine dan penyakit  menular (malaria, TBC, kolera, HIV/ AIDS, Ebola). Musibah yang memakan banyak korban dapat mengubah jumlah dan struktur atau piramida penduduk suatu negara. Misalnya karena banyaknya perempuan dan anak meninggal karena HIV/AIDS, pertumbuhan penduduk bangsa itu menurun drastis.

Selain terkena bencana alam dan penyakit menular, negara pun dapat rusak dan hancur karena perang. Sekalipun secara resmi tidak pernah ada Perang Dunia Ketiga, selama puluhan tahun terakhir ini di mana-mana terjadi konflik yang melibatkan beberapa negara. Atau dalam kurun waktu yang sama terjadi konflik internal di beberapa negara (konflik/perang antar suku/ras/kelompok agama). Tidak pernah ada satu hari pun yang berlalu tanpa perang.

Mengapa sampai terjadi konflik yang disusul dengan adu kekuatan dan adu senjata? Ada berbagai alasan, antara lain perebutan kekuasaan, perebutan sumber daya alam yang terbatas, keinginan untuk memperluas daerah karena tekanan perkembangan penduduk, keinginan menyebarkan ideologi atau agama, keinginan membela agama atau mempertahankan eksistensi etnis tertentu, perasaan superior dan menganggap rendah kelompok (ras, etnis atau agama) lain, keinginan memberontak dan membebaskan diri dari tekanan penguasa diktatorial, ingin merdeka atau justru ingin membalas dendam. Jadi, konflik itu merupakan ‘kreasi’ manusia, yaitu sebagian penduduk yang mempunyai masalah politik, ekonomi, agama, atau sosial budaya. Sebaliknya, manusia sendiri (di samping lingkungan alam) juga akan menjadi korban dari konflik yang menggunakan kekerasan dan senjata.

Dampak Demografis

Tewasnya penduduk dalam jumlah yang besar akan mempengaruhi piramida penduduk, seperti perubahan rasio jenis kelamin dan usia penduduk. Struktur keluarga akan berubah. Yang terlibat langsung dalam peperangan kebanyakan laki-laki berusia muda yang bertubuh kuat. Kelompok itulah yang paling banyak menjadi korban perang. Akibatnya, perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan berubah dan perlu waktu lama untuk mengembalikan rasio itu menjadi  normal  lagi.

Berkurangnya jumlah laki-laki membuat gadis-gadis sulit mencari jodoh dan membina keluarga, kecuali di masyarakat yang menerima poligami. Jumlah kelahiran akan menurun. Namun setelah suasana aman damai, sanak keluarga dan pasangan bertemu kembali, kehidupan keluarga dilanjutkan lagi dan anak anak dilahirkan, sehingga jumlah kelahiran meningkat. Contoh: timbulnya peristiwa demografis baby boom di Eropa Barat dengan peningkatan angka kelahiran yang drastis pasca Perang Dunia Kedua (peningkatan kelahiran antara 1945 dan pertengahan 1950-an).

Karena kekurangan lakilaki, kaum perempuan terpaksa menggantikan laki-laki mencari nafkah dan menjadi kepala keluarga. Untuk itu mereka mengikuti pendidikan dan pelatihan agar dapat memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang memadai. Partisipasi perempuan dalam pendidikan dan pasar tenaga kerja justru meningkat karena perang. Kenyataan yang ironis.

Dalam  peperangan yang menggunakan senjata berjarak jauh (meriam, bom, peluru kendali) laki-laki dan perempuan dari segala kelompok usia dapat menjadi korban.

Pemboman Hiroshima dan Nagasaki di tahun 1945 serta pemboman selama konflik Irak- Iran di era 1980-an membunuh jutaan penduduk dan memusnahkan tempat hunian, bangunan dan kreasi budaya serta merusak lingkungan alam di kawasan tersebut. Kerugiannya bersifat material dan non-material (cacat fisik dan trauma psikis).

Bertahun-tahun setelah perang usai dan setelah rekonsiliasi tercapai, negara-negara yang mengalami konflik masih merasakan dampaknya, terutama dampak dari trauma psikis, yang dapat berlangsung sampai beberapa generasi. Di Eropa dan Amerika para veteran perang mendapatkan terapi dan konseling psikologis, tetapi penduduk di negara-negara konflik membawa trauma itu sampai akhir hayat. Gerakan penumpasan warga Indonesia yang dicurigai menjadi anggota PKI atau organisasi ‘komunis’ lainnya pada era pasca-G30S menimbulkan trauma yang ditularkan kepada beberapa generasi.

Sulit sekali menghitung jumlah korban perang. Kebanyakan perhitungan itu merupakan estimasi dari berbagai sumber. Korban rakyat sipil selalu jauh lebih banyak dari tentara yang tewas. Selain korban yang mati terbunuh, banyak juga penduduk yang tewas karena kelaparan atau terkena penyakit.

Perang Dunia Kedua (1940-1945), misalnya, diperkirakan memakan jiwa 55 juta penduduk Eropa. Perang kemerdekaan Indonesia diperkirakan menelan 3-4 juta jiwa. Perang di Suriah yang berjalan empat tahun (sejak 2011) telah memakan korban 220,000 jiwa. Hampir separuh jumlah penduduk Suriah melarikan diri. Enam juta orang lari ke kawasan yang tidak dikuasai oleh ISIS/IS ataupun oleh kelompok pemberontak, sedangkan 6 juta lainnya mengungsi ke negaranegara tetangga atau ke Eropa, yang lebih aman.

Melarikan diri merupakan reaksi primer orang-orang yang takut akan ancaman perang. Perpindahan penduduk dari satu kawasan ke kawasan lain, atau ke negara lain sering terlihat di negara-negara yang dilanda konflik. Penduduk nekad melarikan diri meski menghadapi risiko kematian di jalan. Setiap hari ratusan penduduk dari Afrika Utara (Libia, Tunisia, Mesir, Nigeria) naik kapal menyeberangi Laut Tengah menuju Eropa guna menghindari ancaman IS dan Boko Haram. Laut Tengah yang cantik sekarang menjadi kuburan dari 35.000 pengungsi yang tenggelam.

Pengungsi yang selamat menjadi displaced persons di tempat hunian yang asing bagi mereka, apalagi jika mereka terpaksa tinggal sampai bertahun-tahun di tempat penampungan pengungsi dengan sarana makanan, air, sanitair dan perawatan kesehatan yang serba kekurangan. Anak-anak tidak dapat bersekolah. Tempat penampungan pengungsi yang dimaksudkan sebagai bangunan sementara, menjadi tempat hunian permanen yang melebihi kapasitasnya.

Perkemahan yang disiapkan untuk 100 keluarga ada yang diisi oleh 800 keluarga pengungsi. Menurut UNHCR dewasa ini di seluruh dunia terdapat 50 juta pengungsi (seperlima dari penduduk Indonesia). Tidak sedikit pengungsi yang meninggal di tempat pengungsian karena melemahnya kondisi tubuh.

Migrasi-paksa ini mengubah struktur penduduk dan menimbulkan masalah, tidak hanya di negara tempat konflik, namun juga di negara-negara tempat pengungsian. Eropa kewalahan menerima puluhan ribu pengungsi dari Afrika dan Timur Tengah. Kedatangan pengungsi yang berduyun- duyun menyebabkan kesulitan tempat pemukiman, penyediaan pangan, sandang dan sarana kesehatan, peningkatan pengangguran, kriminalitas, rasisme, dan sebagainya.

Negara/kawasan tempat konflik harus membangun kawasannya kembali. Pendidikan merupakan kunci bagi rekonstruksi bangsa pasca konflik. Anak muda dengan kemampuannya yang terbatas seringkali terpaksa menggantikan tempat para senior yang tewas atau melarikan diri. Perempuan pun mengerjakan perkerjaan yang biasanya dikerjakan laki-laki. Bertahun-tahun lamanya Jepang dan Eropa bangkit kembali dan mulai berkembang setelah Perang Dunia Kedua. Sepuluh tahun setelah jatuhnya Saddam Husein, Irak belum pulih dan sekarang mereka harus menghadapi IS.

Berapa banyak korban dan kerugian konflik dengan kelompok Muslim radikal yang terus meluas ini, dan berapa lama waktu serta berapa tenaga dan biaya yang diperlukan untuk membangun kembali negara, penduduk dan lingkungan alam yang rusak, tidak dapat diramalkan. Karenanya setiap pemerintah perlu mengantisipasi dan merencanakan strategi rekonstruksi negaranya terhadap kemungkinan terjadinya konflik internal maupun internasional.

 

Santo Koesoebjono adalah
ekonom-demograf.
Solita Sarwono adalah psikolog, sosiolog
dan ahli kesehatan masyarakat.
Keduanya bermukim di Negeri Belanda.

 

 

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background