Nasi gulai

Loading
loading..

NASI GULAI DI SURINAME

Santo Koesoebjono*)

Upaya penge­rahan tenaga kerja telah memin­dah­kan kira2 33 ribu orang Jawa ke Suriname selama setengah abad sejak tahun 1890  untuk bekerja di perke­bunan. Kebanyakan dari buruh ini menetap di Suriname seusai kon­traknya selama lima tahun. Kira2 seperempat  dari jumlah buruh itu kembali lagi ke pulau Jawa. Di antara me-reka ada beberapa puluh orang yang sampai sekarang masih menetap di Jakarta. Juga ada yang melanjutkan perantauannya dari Suriname ke Negeri Belanda (kira2 22 ribu orang). Keluarga nenek Juariah adalah salah satu dari keluarga Jawa-Suriname yang berada di negeri Belanda.

Hidup di perantauan, di tengah2 perkebunan di Suriname seperti yang dialami oleh nenek Juariah dan kakek Sawigeno, tidaklah ha-nya menim­bulkan rasa kesepian melainkan juga perasaan jauh dari kampung halaman dan kebudayaannya yang asli. Guna mengurangi rasa sepi dan terasing itu, buruh2 di lingkungan “penangsi” (perke­bun­an) tersebut sering berkumpul dan mengada­kan selamatan pada hari2 atau peris­ti­wa2 tertentu. Di kalangan mereka beberapa aspek buda-y­a Jawa terten­tu tetap dipeli­ha­ra dan terus dikembangkan, sebatas ingatan dan interpre­tasi individu2 pengemban budaya itu. Ba­gaima­nakah orang Jawa di Suriname memeli­hara dan meneruskan kebu­dayaan Jawa ini ?

Mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan Jawa

Di kampung “penangsi” itu tidak ada kegiatan apa2 lagi selain be-ker­ja. Karena tidak ada hiburan maka pada malam hari atau pada hari Minggu, para penghuni kampung itu berkum­pul untuk mengobrol. Kadang2 mereka juga meng­adakan perhe­latan dengan pertun­jukan wa-yang kulit atau kuda kepang. Mereka juga merayakan perka­winan, khit­anan atau leba­ran dengan selama­tan. Selamatan ini adalah sa-lah satu aspek kebuday­aan Jawa yang dipertahankan dan diterus­kan kepada generasi yang muda. Penerusan kebudayaan dan adat ini terjadi di kalangan sanak keluarga dan teman2 sekelom­pok saja.

Kelompok orang Jawa di tanah rantau itu ingin memper­ta­hankan bu-daya­nya sendiri, tetapi mereka harus mengandalkan daya ingatnya saja sebab pada masa itu hampir tidak ada kontak dengan orang2 di tanah air. Budaya ini lalu diajar­kan dan diterus­kan kepada anak dan cucu mereka sebagai suatu tradisi. Tidak­lah menghe­rankan jika kebudaya­an itu kini tidak persis sama dengan apa yang kita lihat sekarang di Jawa. “Kebu­dayaan Jawa-Suriname mendapat pengaruh da-ri bu­daya suku2 lain di Suriname bahkan juga dari kebuday­aan Ba-rat”, kata Bapak Sariman, salah seorang tokoh penting dari kelom­pok Suriname di Negeri Belanda, yang membuat skenario film seja-rah dokumen­ter “Tembang Seratus” tentang kelompok orang Jawa-Suriname. Pengaruh Barat terlihat misalnya dalam gaya tarian Jawa di film itu. Dengan pengaruh budaya lain tersebut maka budaya Jawa-Suriname berkem­bang berbeda dari kebuday­aan Jawa di Indone­sia walaupun asalnya sama.

Dalam melaksanakan dan meneruskan adat kebiasaan, tata cara dan kesenian Jawa, orang2 Jawa di Suriname memakai perangkat yang me-reka bawa dari Jawa (gamelan, dsb). Di samping itu mereka membuat sendiri alat2 kesenian mereka, seperti misalnya wayang kulit dan kuda kepang. Kedatangan konsulat Indone­sia di Suriname membantu memberi bentuk baru dan memperbesar variasi dalam perkem­bangan kebu­dayaan Jawa, seperti misalnya dalam tari-menari, kata ibu Po-nirah, putri nenek Juariah. Tetapi kadang2 pembaruan budaya itu dianggap aneh dan tidak selalu mudah diterima, misalnya tentang pencak silat. Orang2 Jawa di Suriname menganggap pencak silat itu sebagai suatu falsafah pengendalian diri, dan bahkan ada unsur magi-nya. Oleh sebab itu ketika konsulat Indone­sia memperkenal­kan pencak silat sebagai suatu cabang olah raga dan bahkan mengadakan perlom­baan pencak silat, masyarakat Jawa-Suriname tidak dapat me-nerimanya begitu saja.

Selain kesenian, beberapa aspek yang dianggap penting bagi kehi-dupan keluarga juga dipertahankan, seperti khinatan anak laki2, upacara/adat perkawi­nan, upacara “witonan” bagi wanita yang hamil 7 bulan dan upacara turun tanah bagi anak yang baru belajar ber-jalan. Keluar­ga nenek Juariah dan ibu Ponirah masih melakukan upacara2 adat tersebut. Pelaksan­aan berbagai upacara adat itu di-lakukan oleh orang yang ahli dalam bidang tersebut, yaitu dukun “manten” (perias pengan­tin) dan dukun sunat. Dukun2 itu, dan juga dukun bayi, datang­ ke Suriname bersama dengan kelompok pekerja kontrak pada akhir abad lalu. Di Negeri Belanda pun kini terse­dia perias pengantin Jawa-Suriname yang menyewakan perala­tan pengan­tin. Hanya pertolongan persalinan dan khitanan telah dilaku­kan oleh dokter.

Penyesuaian budaya

Anne Sastromejo (wanita Jawa-Suriname yang aktif dalam kegiatan kelompok Jawa-Suriname di Negeri Belan­da) menyatakan bahwa tidak ada kontak antara orang2 Jawa-Suriname di Negeri Belanda dengan orang2 Jawa dari Indone­sia. Kedua kelompok ini telah berkembang sendiri membentuk ciri2 yang berbeda satu sama lainnya. Lingkung­an hidupnya pun berbeda. Orang Jawa-Suriname merasa segan berhu-bun­gan dengan orang Indone­sia, terutama karena masalah bahasa. Bahasa Jawa yang mereka gunakan se-hari2 ialah bahasa Jawa ngoko (kasar) yang kuno. Memang bahasa inilah yang dipakai oleh golong­an kaum buruh. Dan karena kurang­nya kontak dengan orang Jawa se-lama di Suriname, bahasa Jawa tersebut tidaklah berkembang. Demi-kian juga dengan bahasa Melayu mereka (mereka tidak bisa berbaha­sa Indonesia). Dengan kesulitan komunikasi ini seringkali mereka merasa bahwa orang Indonesia/Ja­wa yang dijumpai menunjuk­kan sikap merendahkan orang2 Jawa-Suriname yang bahasanya janggal itu. Itu-lah sebabnya orang2 Jawa-Suriname dan keluarga nenek Juariah ti-dak pernah mengun­jungi peraya­an2 yang diadakan oleh Kedutaan In-done­sia maupun oleh keluarga2 Indonesia lainnya. Dengan demiki­an kebuday­aan Jawa di Suriname (dan sekarang dite­ruskan di negeri Belanda) berkem­bang menurut interpretasi mereka sendiri. Orang2 Jawa-Suriname ini mengadakan sendiri peraya­an Lebaran, perkawin­an, dsb. secara terpisah, mengikuti adat dan kebiasaan sebagaima­na mereka pela­jari dari leluhur mereka.

Aspek lain dari budaya Jawa yang sulit dipertahank­an keasliannya ialah membuat masakan Jawa. Tidak adanya bahan pangan dan bumbu yang diperlukan bagi masakan itu menyebabkan pengolahan makanan harus disesuaikan dengan kondisi setempat. “Orang2 perempuan ha-rus membuat sendiri bumbu2 seperti terasi, dsb. Tetapi dengan mening­katnya jumlah orang Jawa yang datang ke Suriname meningkat pulalah barang2 dagangan dan bahan makanan dari Jawa”, kata ibu Ponirah. Langkanya bahan pangan dan bumbu bagi pengola­han masakan Jawa memaksa orang Jawa-Suriname untuk mengubah dan mengem­bangkan cita rasa masakan mereka. Karena tidak ada asam maka sayur asam pun dibuat dengan jeruk purut saja, misalnya. Tidak­lah mengheran-kan jika seorang Jawa-Surina­me yang kebetulan berkun­jung ke Indo-ne­sia mengatakan bahwa masakan di Jawa tidak sama dengan yang  biasa dimakannya di rumah.

Tradisi Jawa di negara Barat

Rumah nekek Juariah dan ibu Ponirah berbau masakan Indone­sia dan di tengah kamar ada setum­puk kerak nasi yang akan dikering­kan dan dibuat renggin­ang. Di dinding tergan­tung jam gantung seperti yang sering terdapat di rumah2 Jawa-Suriname dan ruangan besar ini di-hiasi dengan potret2 nenek Juariah dan suaminya dari jaman Suri-name. Di pojok kamar ada tempat duduk/kursi malas khusus untuk nenek Juariah. Walaupun moderni­sasi juga masuk ke dalam lingkung­an kehidupan keluarga nenek Juariah, suasana di rumah nenek Jua-riah yang terletak di salah satu kota di Belanda itu, masih sa-ngat bersifat ke-Jawa-an. Hubungan kekeluargaan di antara nenek Juariah dengan anak dan cucu2-nya sangat erat dan mereka terus memelihara adat dan tradisi Jawa. Keramah tamahan Jawa juga mere-ka perta­hankan. Siapa saja boleh bertamu setiap saat dan selalu disuguhi makanan. Saya dan isteri sempat menikmati masakan gulai dan lontong yang enak buatan ibu Ponirah. “Rejeki tidak boleh di-tolak”, kata nenek Juariah. Bahkan waktu kami pergi ibu Ponirah membe­ri­ kami sebungkus kue dari singkong sebagai “sangu”/be­kal.

Dengan keluarga nenek Juariah kami bicara dalam bahasa Jawa. Me-ngenai bahasa, bapak Sariman mengata­kan memang umumnya bahasa Jawa yang digunakan orang Jawa-Suriname adalah bahasa kasar. Te-tapi bapak Sariman sendiri masih sempat mendapat pendidikan baha-sa Jawa yang cukup mendalam dari orang tuanya yang langsung da-tang ke Suriname sebagai buruh dan beliau mengajak kami bicara dalam bahasa Jawa yang halus ! “Tetapi generasi yang muda tentu saja sudah lain sikapnya, juga karena prioritas dalam kehidupan pun sudah lain”, kata bapak Sariman tersenyum. Begitupun halnya dengan keluarga ibu Ponirah. Anak2nya masih lancar berbicara Jawa tetapi cucu2nya sudah kurang lancar walaupun masih dapat menang­kap apa yang dikatakan dalam bahasa Jawa. Meskipun cucu2-nya men-dapat didikan Barat, yang umumnya tidak mementingkan hubungan ke-keluar­gaan itu, para cucu ini sangat dekat dengan nenek dan ibu mereka, jadi dekat juga dengan sumber tradisi dan adat asal mere-ka. Dengan demikian mereka masih bisa mempelajari dan mem­praktek­kan tradisi itu dalam hidup se-hari2 mereka.

Namun ibu Ponirah yang kini berusia lebih dari 60 tahun itu meng-akui bahwa jaman selalu berubah dan cara hidup pun berubah. Kedu-dukan wanita di dalam keluarga juga berubah. Misalnya, anak2 pe-rempuan­nya tidak hanya bertugas sebagai isteri dan ibu di rumah, melain­kan bekerja juga di kan­tor. Cucu2 perempuannya pun tidak dapat dipaksa untuk belajar memasak. Lalu, apakah mereka tidak berke­beratan jika salah satu cucunya menikah dengan orang yang bukan keturunan Jawa atau Suriname ? Nenek Juariah dan ibu Poni-rah mengatakan bahwa itulah realitas kehidupan yang tidak dapat dielakkan. Mereka pasrah kepada apa yang akan terjadi. Yang masih ingin mereka pertahankan adalah agar keturunan mereka menikah de-ngan orang Islam, atau calon2 menantu itu harus bersedia menjadi Islam. Tetapi sampai sejauh mana keinginan ini dapat dipertahank­an, sukar diperkirakan, mengingat bahwa generasi muda dari ke-luarga itu hidup dan bergaul dengan kalangan orang Belan­da.

 

*) demograf-ekonom bermukim di NegerBelanda

Publ. in Pertiwi, 6(Oktober 1991)143, 112-113.

 

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background