Budaya Pamer Memicu Konsumerisme dan Korupsi

Loading
loading..

Budaya Pamer Memicu Konsumerisme dan Korupsi

(Narcissism triggers consumerism and corruption)

Solita Sarwono*)

“Aduh, kamu kok minta iPad sih? Kan baru dibelikan Galaxy 3?” begitulah reaksi keheranan ibu Lani atas  permintaan putra remajanya. “Kan temen-temenku pakai iPad, Mah. Masa’ aku enggak?” jawab sang remaja. Memang begitulah tren di kota-kota besar Indonesia. Ingin membeli produk-produk baru, ikut mode.

Pusat-pusat belanja dan rumah makan-minum selalu penuh pengunjung, perjalanan wisata ke Singapura, Eropa dan Amerika tetap ramai dengan tujuan utama: shopping. Tidak ada tanda-tanda krisis ekonomi di kalangan keluarga setingkat ibu Lani, padahal rakyat menjerit karena kenaikan harga BBM, gas dan bahan pangan, orang miskin kekurangan air bersih dan panen rusak karena kemarau panjang.

Perilaku konsumtif seperti itu memang sering ditemukan di negara berkembang dan negara yang baru menikmati demokrasi dan memperoleh kebebasan memilih produk dari aneka sumber. Di jaman penjajahan biasanya penyediaan produk bagi rakyat dibatasi jumlah maupun jenisnya. Begitu negara itu bebas dari penjajahan dan rakyat memperoleh kebebasan untuk ‘mencicipi’ aneka produk dari daerah lain dan dari luar negeri, maka orang berbondong-bondong akan mengkonsumsi produk baru/asing itu.

Keinginan untuk mengkonsumsi produk yang baru itu seringkali didorong oleh pandangan/kepercayaan konsumen bahwa produk/barang dan gaya hidup yang berasal dari negara maju itu modern, lebih baik dan lebih unggul daripada produk lokal dan gaya hidup tradisional. Pemakaian produk-produk mutakhir dan peniruan gaya hidup modern akan meningkatkan status sosial konsumen. Oleh karenanya orang berupaya ‘meng-up date’ atau mengganti barang-barang miliknya dengan produk paling mutakhir meski barang-barang yang lama masih baik. Akibatnya barang-barang yang sudah dianggap kuno itu tidak terpakai lagi, menumpuk sampai rusak dan dibuang. Pemborosan yang mahal.

Yang menyedihkan adalah di negara kita ini warga kalangan ekonomi lemah pun berperilaku konsumtif. Mereka membeli barang mewah, termasuk gadget elektronis yang mengikuti mode. Untuk itu mereka tidak segan berutang atau membayar kredit. Kalau tidak dapat membeli produk bermerk yang ori (original=asli), yang KW sekian pun bolehlah. Pokoknya penampilannya gaya. Guna memenuhi keinginan masyarakat dari kalangan ekonomi lemah untuk tampil dengan bergaya ‘gengsi’ maka perusahaan-perusahaan barang-barang tiruan menjadi marak dan tumbuh menjamur di negara kita maupun di Tiongkok dan Taiwan.

Masyarakat kita tidak peduli akan hak cipta dan larangan menjiplak serta memperdagangkan produk-produk imitasi. Belasan tahun lalu ada seorang putri pejabat tinggi Indonesia yang datang ke Negeri Belanda membawa puluhan tas merk Escada untuk dijual di stand Pasar Malam di Den Haag. Pasar Malam tahunan itu merupakan ajang pemasaran produk-produk Indonesia. Escada itu kan buatan Ital ia, bukan Indonesia. Harga tas Escada aslinya mahal. Maka jika orang membawa tas Escada dalam jumlah besar, pastilah tas-tas itu palsu. Si putri pejabat ini ditahan oleh douane di Amsterdam dengan tuduhan menyelundupkan barang-barang tiruan untuk diperdagangkan. Konyolnya, gadis yang sudah pernah kuliah di Eropa ini tidak merasa salah, sehingga dia heran mengapa dia ditahan. Untuk mengelak dari sanksi, dia coba menyebut nama ayahnya, penguasa di Indonesia, tetapi tidak mempan. Akhirnya sang putri baru diizinkan masuk ke Negeri Belanda setelah membayar denda tinggi sekali dan barang-barang bawaannya disita lalu dimusnahkan.

Mengubah Perilaku Konsumtif

Selama dasawarsa terakhir ini laporan pemerintah dan angkaangka statistik menunjukkan tren peningkatan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia. Jumlah penduduk yang tergolong berpenghasilan menengah bertambah, meski penduduk miskin masih banyak. Jumlah pemilik kendaraan bermotor meningkat pesat. Pengunjung pusat-pusat perbelanjaan, rumah makan dan tempat rekreasi bertambah terus, apalagi di masa liburan atau harihari raya. Pakaian pengunjung yang beraneka ragam menunjukkan diversitas status sosial-ekonomi mereka. Ada yang berbelanja. makan-minum, ada juga yang hanya cuci mata atau sekadar ‘cari pacar’ saja. Setiap pengunjung, tua-muda, memegang hp untuk berkomunikasi maupun untuk bermain sambil mengisi waktu.

Kepemilikan suatu benda/materi merupakan simbol status. Orang membeli sesuatu bukan karena memerlukannya melainkan agar tidak dianggap kuno/kampungan atau melarat. Makin banyak materi yang dimilikinya, yang ‘pantas’ (untung tuntutan itu ditolak Presiden). Namun nampaknya peningkatan kondisi ekonomi itu tidak sepadan dengan peningkatan taraf pendidikan masyarakat. Akibatnya, banyak orang membeli produk tanpa paham cara  pemeliharaan dan perbaikannya.  Jika rusak/macet sedikit, beli lagi yang baru. Jika uangnya kurang mereka akan meminjam, berhutang atau korupsi, demi menjaga status dan penampilan pribadi.

Seharusnya perkembangan kondisi sosial-ekonomi suatu bangsa, berjalan setara dengan kemajuan pengetahuan dan kemampuannya. Penampilan luar yang menarik/hebat perlu diimbangi dengan ’isi’ yang berbobot. Di jaman yang serba materialistis ini orang yang berpenampilan bersahaja cenderung dipandang rendah, ‘tidak masuk hitungan’ dan melarat, padahal ada pepatah: “seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk”. Banyak orang yang tampil gagah, berani, dan banyak bicara, meski tidak ada isinya, seperti “tong kosong nyaring bunyinya”

Bangsa kita perlu merombak pola pikirnya agar dapat mencapai keseimbangan antara penampilan dan ‘isi’ seseorang. Perhatian perlu lebih ditujukan kepada pendidikan, baik pendidikan formal (pengetahuan, kepandaian dan ketrampilan) maupun pendidikan karakter. Rasa bangga terhadap budaya dan produk bangsa sendiri perlu dipupuk dan lebih diperkuat. Ajaran Mahatma Gandhi kepada bangsanya terbukti telah menjadikan India negara yang mampu memproduksi tekstil, mesin, alat-alat listrik dan kendaraan bermotor untuk konsumsi sendiri bahkan mengekspornya ke mana-mana. Dalam kesederhanaannya Mahatma Gandhi merupakan realisasi dari pepatah “seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk”.

Dengan mengajak para Menteri berpakaian kerja putihhitam dan pakaian resmi batik, Presiden Jokowi telah mulai mempromosikan kesederhanaan dan mencintai produk lokal. Pemilihan anggota kabinetnya pun telah dicoba mengutamakan ‘isi’-nya. Di samping itu sudah ada juga beberapa tokoh Indonesia yang dapat dijadikan panutan karena ‘isi’ dan kesederhanaannya dan telah tampak upaya mempromosi produk lokal (tekstil, sepatu, makanan, kesenian dan kerajinan tangan) ke tingkat nasional dan internasional. Namun masih diperlukan upaya lebih sungguh-sungguh untuk mengubah perilaku konsumtif menjadi produktif, bergaya hidup sederhana serta menambah bobot karakter, bukannya menambah jumlah harta benda dan memamerkannya.

Kita tidak perlu menunggu munculnya tokoh panutan nasional. Kita sendiri dapat menjadi panutan yang baik bagi anakcucu kita sendiri. Yang penting, kita punya niat yang kuat untuk mengubah pola pikir dan perilaku kita sehari-hari.

*) Penulis adalah psikolog dan sosiolog,
bermukim di Negeri Belanda

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background