Bonus demografi

Loading
loading..

Dapatkah Indonesia Memanfaatkan Bonus Demografi?

(Can Indonesia utilize demographic bonus?)

Santo Koesoebjono dan Solita Sarwono*)

Saat ini Indonesia sedang dalam tahap menikmati keuntungan dari bonus/dividen demografi. Sekarang ini kelompok tenaga kerja tidak perlu menanggung beban yang terlalu berat untuk membantu anak/remaja dan lansia, sehingga orang dapat memanfaatkan penghasilannya untuk meningkatkan kondisi ekonominya. Namun masa bonus demografi ini tidak berlangsung selamanya. Sekitar tahun 2030 masa jaya ini akan berakhir.

Terbukanya jendela peluang (window of opportunity) seperti saat ini hanya satu kalidialami oleh suatu negara dalam perkembangan penduduknya. Oleh karenanya menjelang pemilu mendatang, para pembuat keputusan perlu menyusun kebijakan yang dapat memanfaatkan secara optimal keuntungan dari bonus demografi di tahun-tahun mendatang.

Berkat kesadaran akan implikasi dari peledakan penduduk maka tingkat fertilitas penduduk (rata-rata jumlah anak per wanita) di kebanyakan negara berkembang menurun, na-mun jumlah penduduknya masih terus meningkat. Paradoks ini merupakan dampak dari masih besarnya jumlah pasangan usia subur atau banyaknya wanita yang ingin menjadi ibu. Sekalipun para ibu itu hanya memiliki satu orang anak saja, jumlah bayi yang dilahirkan masih tetap banyak. Lambat laun generasi tersebut akan melampaui usia subur. Anak-anak mereka yang jumlahnya lebih sedikit, akan menjadi dewasa dan memasuki usia subur, sehingga pada generasi berikutnya jumlah bayi yang dilahirkan akan berkurang, yang menyebabkan penurunan jumlah penduduk.

Perkembangan kependudukan semacam ini tidak perlu merugikan negara. Bukan hanya jumlah penduduk yang penting bagi dinamika kependudukan. Hubungan antar kelompok usia merupakan faktor yang lebih penting. Misalnya perbandingan antara jumlah penduduk dalam kelompok usia kerja/produktif, dengan jumlah penduduk yang tidak/belum dapat bekerja (anak usia sekolah dan lansia). Istilah teknisnya adalah rasio ketergantungan penduduk non-produktif (anak muda dan lansia) terhadap tenaga kerja.

Gambaran penduduk Indonesia dewasa ini memperlihatkan jumlah yang besar pada ke-lompok usia kerja, sedangkan jumlah anak dan remaja lebih kecil dan yang paling sedikit adalah jumlah lansia. Dalam situasi demografis seperti ini beban tanggungan kelompok tenaga kerja relatif kecil, belum mencapai 50 per 100 (yaitu 50 anak dan lansia ditanggung oleh 100 tenaga kerja). Artinya, orang yang bekerja tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membiayai kehidupan anak/remaja dan lansia.

Periode di mana rasio ini kecil, dinamakan periode dividen demografi atau bonus demografi. Dalam era tersebut terbuka jendela peluang untuk memperoleh keuntungan/ bonus, seperti misalnya pengembangan dan pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia bonus demografi ini diproyeksikan akan berlaku antara 2010 dan 2030. Setelah tahun 2030 perbandingan (rasio) antara jumlah anak dan lansia dengan tenaga kerja akan mulai meningkat, karena jumlah lansia akan membengkak menjadi 28,8 juta orang, sehingga beban tanggungan tenaga kerja makin berat. Sekalipun jumlah tenaga kerja masih cukup besar dibandingkan dengan tanggungannya, bonus demografi belum tentu dapat dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu diperlukan tenaga kerja yang terlatih, terampil dan berkualitas. Di samping itu perlu juga disediakan banyak peluang kerja.

Kurikulum Bermutu Tinggi

Guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja berkualitas, lembaga-lembaga pendidikan ha-rus menyediakan kurikulum pendidikan bermutu tinggi yang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, di tingkat nasional maupun di luar negeri. Dengan sendirinya hal ini menuntut penyediaan tenaga pengajar maupun anak didik/mahasiswa yang menguasai bahasa Inggris dengan baik dan perlu penerapan teknik pengajaran yang merangsang anak didik/mahasiswa untuk berpikiran luas, kreatif dan kritis.

Perlu pula dilakukan evaluasi hasil pendi-dikan, dicocokkan dengan kebutuhan tenaga kerja dan bidang kerja yang ada di masyarakat. Perlu diskusi/komunikasi antara pihak ‘pencetak’ tenaga kerja dan perusahaan/organisasi pengguna tenaga kerja. Pengadaan program pendidikan yang tidak diperlukan oleh masyarakat akan mengakibatkan pengangguran di kalangan tenaga muda lulusan perguruan tinggi maupun lulusan sekolah ke-juruan.

Tenaga kerja berkualitas tidak saja memiliki keterampilan yang baik dan pendidikan yang bermutu, namun juga mempunyai kondisi kesehatan yang prima, secara fisik, mental dan sosial. Agar dapat berprestasi secara optimal, tubuh harus sehat, pikiran tenang, tidak menderita stress, didukung oleh kehidupan sosial yang baik. Kebiasaan hidup sehat perlu ditanamkan sedini mungkin, guna mencegah penyakit pada individu dan kelompok. Kebiasaan yang dapat merusak kesehatan orang banyak (contoh: merokok, mengotori lingkungan) perlu dihilangkan. Untuk itu pihak yang berwenang perlu membuat peraturan dan menerapkan sanksi terhadap para pelaku perbuatan yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Suatu negara tidak dapat maju dan ber-kembang jika rakyatnya tidak sehat. Sukses Indonesia dalam pengendalian pertumbuhan penduduk seyogyanya dilengkapi dengan peningkatan kualitas bangsa.

Bagi bangsa Indonesia pintu peluang sudah terbuka untuk menikmati bonus demogra-fi. Perlu segera diambil tindakan, sebelum peluang ini berakhir di tahun 2030. Ada baiknya jika para calon presiden dan partai-partai pen-dukungnya dalam kampanye Pilpres 2014 mengusulkan upaya meningkatkan mutu lu-lusan sekolah kejuruan dan perguruan tinggi dan mencarikan tempat kerja bagi para lulusan itu melalui kerjasama dengan berbagai organi-sasi dan perusahaan/bisnis yang akan meman-faatkannya.

Tanpa program yang baik dalam perencanaan, pendidikan dan penempatan tenaga kerja, Indonesia akan kehilangan peluang untuk menikmati bonus demografi. Negara ini justru akan menghadapi berbagai masalah pengangguran dan keresahan sosial di kalangan sarjana baru. Selanjutnya, keresahan ini dapat dimanfaatkan oleh golongan-golongan tertentu untuk melawan pemerintah, merusak dan mengacaukan demokrasi bagi kepentingan golongan itu sendiri. Tentu saja jika kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kemajuan dan pertumbuhan ekonomi negara. Oleh sebab itu manfaatkanlah bonus demografi ini seoptimal mungkin mulai sekarang, karena peluang ini hanya datang satu kali saja dalam sejarah perkembangan penduduk suatu bangsa.

 *) Kedua Penulis Santo Koesoebjono (demograf dan ekonom) dan Solita Sarwono (psikolog, sosiolog dan ahli kesehatan masyarakat) bermukim di Negeri Belanda

 Published in Suara Pembaruan, 25 Maret 2013

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background