Bonus ataukah Bencana Demografi?

Loading
loading..

Bonus ataukah Bencana Demografi?

Solita Sarwono*)

Pakar kependudukan dan politisi di seluruh dunia membahas tentang bonus demografi, yaitu situasi di mana suatu negara diasumsikan akan dapat memperoleh bonus/keuntungan dari kondisi di mana penduduk usia produktif (15 – 64 tahun) lebih banyak  dari jumlah anak-anak di bawah 15 tahun dan lansia di atas 65 tahun.

Besarnya kelompok usia produktif diharapkan akan mendorong penghasilan negara dan keluarga. Peluang untuk memperoleh bonus demografi yang berlangsung selama 20-30 tahun ini terjadi pada setiap bangsa, hanya satu kali saja, pada kurun waktu yang berlainan. Bagi Indonesia diproyeksikan akan berlaku antara 2010 dan 2030. Setelah tahun 2030 perbandingan (rasio) jumlah anak dan lansia dengan tenaga kerja akan mulai meningkat, sehingga beban kelompok tenaga kerja akan makin berat.

Keuntungan dari banyaknya tenaga kerja ini hanya dapat diperoleh jika negara dapat memenuhi dua syarat pokok, yaitu menyiapkan tenaga kerja terdidik/terlatih/terampil, dan menyediakan peluang kerja yang cukup sehingga dapat memanfaatkan seluruh angkatan kerja secara maksimal.

Pembentukan tenaga terlatih dilakukan melalui pendidikan formal, mengikuti jalur gelar maupun non gelar, sampai seseorang memiliki keahlian dalam bidang tertentu. Untuk itu, diperlukan sistem pendidikan yang berkualitas di semua jenjang. Dengan metode pengajaran yang cocok, yang dapat merangsang kreativitas peserta didik dan mengutamakan mutu pendidikan, diharapkan dapat terbentuk angkatan tenaga kerja yang berkualitas.

Di samping keahlian/ketrampilan itu, diperlukan juga sikap mental yang baik, yaitu rasa tanggung jawab dan kesediaan untuk menjalankan tugas/pekerjaannya dengan sungguhsungguh, sebaik mungkin. Pembinaan sikap mental semacam ini dilakukan melalui pendidikan informal, pengasuhan dalam keluarga, serta keteladanan di lingkungan kerja dan kalangan profesi.

Jika periode untuk mendapat bonus demografi itu sudah terlewati, apakah bonusnya akan hilang? Tidak. Hasil dari pendidikan berkualitas tidak akan hilang, sekalipun orangorang itu telah bertambah umur dan mencapai usia pensiun. Kita lihat sendiri, generasi muda lebih pandai/terdidik dibandingkan generasi orangtuanya. Keahlian dan keterampilan yang dipelajari pada usia muda akan tetap menempel pada diri seseorang bahkan akan terus berkembang, jika mendapat kesempatan untuk mengembangkannya.

Di samping penyediaan sistem pendidikan yang baik, pemerintah perlu menyediakan lapangan kerja bagi yang telah mencapai usia kerja, sampai mencapai usia pensiun. Investasi pemerintah dan orangtua dalam mendidik generasi muda harus didukung dengan penyediaan kesempatan kerja yang cukup. Jika tidak, maka akan terjadi pemgangguran yang tinggi di kalangan orang muda yang berpendidikan tinggi dan investasi pemerintah dan orangtua akan menjadi sia-sia.

Bencana Demografi

Lalu apa yang akan terjadi jika kedua syarat tersebut di atas tidak dapat dipenuhi? Negara akan memiliki penduduk usia kerja yang berjumlah besar tetapi berpendidikan rendah, sehingga hanya mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar. Pekerjaan yang memerlukan keahlian terpaksa diberikan kepada orang lain yang berpendidikan lebih tinggi, mungkin diberikan kepada orang asing. Pekerjaan kasar tingkat rendah biasanya menghasilkan upah yang rendah pula. Oleh karena itu tanpa pendidikan yang berkualitas, jumlah tenaga kerja yang besar itu justru akan menjadi beban negara.

Selain itu, jika penduduk telah baik sehingga memiliki ketrampilan dan keahlian tingkat tinggi akan tetapi tidak cukup tersedia lapangan kerja, maka generasi muda yang terdidik itu akan merasa kecewa. Mereka yang mampu membiayai diri ke luar negeri akan mengadu nasib di negara lain yang memberikan jaminan dan penghargaan lebih baik terhadap keahliannya. Terjadilah braindrain. Orangorang yang pandai dan kompeten justru meninggalkan negaranya, bukannya menggunakan keahliannya itu untuk membangun negara sendiri.

Apabila banyak dari penduduk usia muda yang terdidik ini terpaksa tetap tinggal di negaranya tetapi menjadi pengangguran, maka mereka akan merasa kecewa/frustrasi. Rasa frustrasi ini dapat memicu kemarahan yang ditujukan kepada lingkungan dan pemerintah. Frustrasi, kemarahan dan kecemburuan sosial itu bukan hanya dirasakan oleh satu-dua orang saja tetapi oleh banyak orang. Pada suatu saat perasaanperasaan negatif tersebut akan memuncak dan mendorong kelompok anak muda untuk melakukan perlawanan melalui demonstrasi,
protes bahkan vandalism.

Jika hal-hal ini terjadi maka dengan besarnya jumlah penduduk berusia produktif, negara tidak akan dapat menikmati bonus demografi melainkan justru akan mengalami bencana demografi. Terserah kepada pemerintah
dan semua pihak/lembaga terkait untuk memanfaatkan kondisi demografi di Indonesia pada saat ini, supaya masyarakat dapat menikmati bonus demografi dan menghindari bencananya.

 

Penulis adalah sosiolog dan
ahli kesehatan masyarakat,
bermukim di Negeri Belanda

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background